Wiraswasta Asal Purworejo Pekerjakan Tuna Rungu dan Tuna Wicara.

ANDY SETIAWAN (41), warga Desa Senepo Tengah RT 03 RW 04, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, tergolong berani dalam berwirausaha. Pemilik usaha UMKM Sablon Abang Ireng ini, memilih bermitra dengan para difabel, sebagai pekerjanya. Saat diwawancarai Suara Merdeka, Andi mengaku terkesan dengan hasil pekerjaan difabel. Meski di awalnya memerlukan usaha lebih untuk melatih mereka. Apalagi, difabel yang bekerja di tempatnya, semuanya tuna rungu dan tuna wicara.

“Yang bekerja di tempat saya ada empat orang. Kebetulan mereka memiliki kekurangan, tuna rungu dan tuna wicara. Alhamdulillah, setelah dilatih dengan baik, hasil pekerjaan mereka ternyata tidak kalah dengan pekerjaan orang pada umumnya,” katanya, Senin (3/2).

Andy juga mengaku, ada peningkatan omzet sejak bermitra dengan para difabel. Berkah. Begitu cara Andy mengungkapkan rasa syukurnya. Pesanan kaos oblong sablonya semakin bertambah. Kondisi inipun, juga berpengaruh pada naiknya pendapatan para difabel yang bekerja di tempatnya. Kendati karyawanya memiliki kekurangan fisik, Andy, tidak membedakan-bedakanya.

Ia tetap memberikan upah secara profesional, yang diberikan dalam waktu mingguan. Besaranyapun relatif baik dibandingkan dengan upah standar usaha kecil di daerahnya. Andy menceritakan, kisahnya dengan para difabel ini dimulai sejak dua tahun lalu. Saat itu Ia beberapa kali diminta mengisi pelatihan kepada difabel. Disitulah, Andy, mulai terpikir, mengapa tidak bekerja mencari rejeki bersama kaum difabel.

“Saya ini juga merasa amalnya kurang. Kebetulan saya juga belum anak. Mereka ini sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. Harapan kecil dalam hati saya, mereka dapat menjadi jembatan amal saya di akhirat nanti,” kata pria bertato dan memiliki perawakan besar ini.

Usaha Andy di bidang sablon ini sudah memiliki ruko pemasaran, yang berlokasi di Pasar Hewan, Jalan S Parman, Kutoarjo. Outlet tersebut dibuka dengan harapan dapat menaikan pemasaran hasil karya difabel yang bekerja di tempatnya. Didalam hati kecil Andy, Ia berharap dapat mewadahi difabel yang lebih banyak lagi, seiring dengan perkembangan usahanya, meski ada hambatan, bahkan cemoohan dari masyarakat yang belum memahami maksud dan tujuanya mempekerjakan difabel.

“Saya sangat berharap dapat lebih banyak difabel yang bekerja. Mereka ini bisa bekerja jika dilatih. Walaupun terkadang kami yang mempekerjakan mereka dianggap mengeksploitasi, tetap cobalah memahami kebutuhan difabel, yang juga perlu mendapat penghasilan,” pungkasnya.


Heru Prayogo

Tinggalkan Balasan