Warga Terdampak Bendungan Bener Tuntut Ganti Rugi Rp 700 Ribu Permeter

PURWOREJO, SM Network – Protes terhadap nilai ganti rugi proyek Bendungan Bener kembali dilakukan oleh masyarakat. Kemarin, Rabu (8/1), ribuan warga yang merasa tanahnya dihargai terlalu murah menggelar unjuk rasa di Pengadilan Negeri Purworejo.

Aksi ini dilakukan untuk memberi dukungan terhadap salah satu rekan mereka yang mengikuti sidang menolak nilai ganti rugi, dengan agenda mediasi antar kedua belah pihak, yakni warga terdampak dan pemegang hajat proyek.

Warga yang datang berasal dari desa-desa terdampak, yaitu Desa Guntur, Kemiri, Burat, Nglaris, Limbangan, Legetan, Karangsari, Kedungloteng, Wadas dan Bener. Dengan membawa bermacam properti dan spanduk, mereka bertahan meskipun hujan deras mengguyur.

Sidang hari ini beragendakan mediasi antara pihak penggugat, Maksum, warga RT 3 RW 5, Desa Guntur, Kecamatan Bener, dengan pihak tergugat, yakni BPN (Baan Pertanahan Nasional) dan BBWSSO (Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak).

Mediasi yang difasilitasi oleh majelis hakim yang diketuai oleh Anshori Hironi selama beberapa menit, belum menghasilkan kesepakatan. Sidang akan dilanjutkan dua kali dalam seminggu, yakni hari Selasa dann Kamis, dimulai pukul 10.00, sampai mendapat keputusan.

Diluar sidang, kegiatan orasi menyampaikan keberatan terhadap nilai gantirugi dilakukan oleh warga yang berunjukrasa. Salah satu dari mereka bahkan ada yang menuntut nilai ganti rugi tanah terdampak bendungan bener, Rp 700 ribu permeter.

“Saya minta Rp 700 ribu permeter,” kata Isnandar, warga Desa Karangsari RT 1 RW 1, Kecamatan Bener, saat diwawancarai wartawan disela-sela aksi unjukrasa.

Ia berasalan harga itu standar lantaran diatas tanahnya banyak tanaman durian yang selama ini menjadi penghasilanya.

Dalam orasinya, Koordinator warga, Eko Siswanto mengajak warga yang hadir tidak melakukan tindakan anarkis dan tetap tertib selama sidang berlangsung. Dirinya juga menegaskan tidak menolak proyek bendungan, namun keberatan dengan besaran gantiruginya.

“Kita di sini tidak menolak proyek Bendung Bener, tetapi memperjuangkan harga tanah kita yang dihargai Rp 50.000. Untuk beli daging 1/2 kg saja tidak cukup,” teriak Eko di depan ribuan massa.

Disela-sela orasinya, Eko Siswanto, juga mengklarifikasi adanya statmen salah satu warga terdampak bendungan bener dalam pemberitaan, yang menyatakan menuntut ganti rugi Rp 150 sampai dengan Rp 200 ribu permeter. Menurutnya, tuntutan warga berbeda-beda.

Heru Prayogo

Tinggalkan Balasan