Warga TEA Mertoyudan Tak Lagi Menerima Trauma Healing

MUNGKID, SM Network – Menyusul adanya peningkatan kasus Covid 19 di Kabupaten Magelang dan Kecamatan Mertoyudan khususnya, Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Banyurojo dan Deyangan di Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang, tidak lagi menerima trauma healing dari pihak luar.

Hal tersebut diutarakan oleh Kepala Desa Banyurojo, Ikhsan maksum, Jumat (27/11), saat diwawancarai. “Ya kita mohon maaf tidak lagi menerima trauma healing dari luar, untuk mengantisipasi penyebaran kasus Covid-19,” ungkapnya.

Ia mengatakan, sejak TEA ini ditempati pengungsi dari lereng Merapi Dusun Babadan I Desa Paten Kecamatan Dukun, tanggal 6 November lalu, banyak pihak luar yang ingin mengisi trauma healing untuk pengungsi. Bahkan jadwalnya sudah tersusun sampai beberapa waktu ke depan.

Ikhsan mengatakan trauma healing sangat disukai pengungsi, sebab membuat para pengungsi merasa terhibur dan tidak jenuh di tempat pengungsian. Selain itu, mereka juga bisa mendapatkan pengetahuan baru. “Para pengungsi senang dan mereka bisa ceria gembira tidak jenuh,” ujar Ikhsan.

Namun karena kasus Covid di wilayah Mertoyudan naik cukup banyak, maka terpaksa trauma healing dari luar tidak diijinkan. Trauma healing nantinya akan diisi oleh relawan yang sudah terdaftar dan juga tim yang menangani pengungsi dari Banyurojo. Tim ini ada seksi kerohanian, pendidikan maupun trauma healing. Mereka yang diperbolehkan memberi trauma healing juga diharuskan melakukan di rapid test terlebih dahulu. “Jadi sekarang tidak bisa sembarangan orang luar masuk ke lokasi pengungsian,” jelasnya.

Hal sama juga disampaikan Kepala Desa Deyangan Mertoyudan Risyanto, pihaknya juga tidak lagi menerima trauma healing bagi pengungsi dari pihak luar. “Ya untuk mencegah penularan Covid-19 karena kasusnya sudah semakin banyak,” kata Risyanto.

Untuk trauma healing bagi pengungsi nantinya akan di handle langsung oleh tim penanganan pengungsi di Deyangan. Kebetulan di TEA Deyangan, di dampingi tim dari Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) untuk menangani pengungsi termasuk trauma healing.

Bersama tim, pengungsi diajak bermusyawarah apa saja yang mereka inginkan selama di tempat pengungsian, untuk mengatasi rasa jenuh. Apalagi saat ini sudah hari ke 20 mereka mengungsi ke sister village.

Seperti diketahui, sejak 6 November lalu, warga lereng Merapi terutama dari KRB III diungsikan ke sister village, menyusul kenaikan status Merapi dari Waspada ke Siaga. Mereka yang mengungsi merupakan warga usia rentan, seperti lansia, wanita hamil/menyusi, anak-anak dan balita dan warga yang sakit.

Tinggalkan Balasan