SM/Amelia Hapsari - NYARIS AMBRUK : Warga Joho, Condongcatur, Depok, Sleman menunjukkan salah satu tiang fiber optik yang kondisi yang nyaris ambruk, Rabu (17/3).

SLEMAN, SM Network – Rencana pemasangan tiang jaringan internet di wilayah padukuhan Joho, Condongcatur, Depok, Sleman dihentikan. Keputusan ini diambil berdasar hasil mediasi antara warga dengan pemerintah setempat dan pihak provider.

Sebelumnya, warga Joho menyampaikan protes atas rencana penempatan tiang fiber optik oleh salah satu operator, karena dinggap merusak estetika lingkungan. “Khusus di Joho, tidak ada lagi pemasangan tiang jaringan internet yang baru, tapi memanfaatkan tiang yang sudah ada,” kata Panewu Depok, Abu Bakar saat dikonfirmasi, Rabu (17/3).

Pada rapat mediasi yang digelar Senin (15/3) lalu juga disepakati agar pihak provider terlebih dulu melengkapi syarat perizinan. Diketahui hingga saat ini, provider belum mengantongi izin dari Diskominfo, dan IMB yang diterbitkan oleh DPMPPT Sleman.
Legalitas yang dimiliki baru sebatas izin dari Pemerintah Pusat, Provinsi, dan DPUPKP Sleman untuk pemanfaatan ruang milik jalan (rumija).

Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Sleman Achmad Subhan berharap persoalan serupa tidak terulang di kemudian hari. Selain legalitas perizinan, pihak provider juga harus memperhatikan kaidah sosialisasi. Namun di sisi lain, dia memandang ada regulasi yang perlu dibenahi. “Agar tidak terkesan perizinan di Sleman sulit, mahal, dan berbelit,” ujarnya.

Mengurai persoalan ini, DPUPKP berencana menjadikan Joho sebagai pilot project utilitas penataan tiang jaringan internet. Ke depan diupayakan penempatan fiber optik tidak lagi melintang melainkan menggunakan piranti box culvert.
“Kami akan belajar ke pemkot dan pemprov terkait pemasangan dan maintenancenya,” kata Subhan.

Terpisah sebelumnya, Dukuh Joho, Retnaningsih menegaskan, masyarakat sudah sepakat tidak ada lagi penambahan tiang baru di wilayah mereka. Kesepakatan itu sudah ada sejak tahun 2019.

“Di dusun sudah terlalu banyak terpasang tiang fiber optik. Itu akan merusak estetika lingkungan, dan kami khawatir berimbas terhadap aspek keselamatan warga,” ujarnya.