Warga Gunung Prau Telusuri Jalur Perjuangan Pangeran Diponegoro

Upacara Bendera di Air Terjun

Lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau pada masa kerajaaan Mataram Islam memiliki arti penting terutama di masa perang melawan penjajah Belanda. Bahkan Sultah Hamengku Buwono II yang dikenal dengan sebutan Sultan Sepuh, lahir di lereng Gunung Sindoro pada tanggal 7 Maret 1750 maka diberi naman Raden Mas Sundoro. Keterkaitan itu juga tampak di era Salah satunya saat terjadi suksesi perang Jawa antara pasukan Pangeran Diponegoro melawan Belanda pada tahun 1825-1830, sebab tlatah Kedu khususnya di lereng gunung menjadi pos bagi pasukan Diponegoro.

Untuk mengenang hal tersebut, warga yang tinggal di lereng Gunung Prau, Dusun Gunung Wuluh, Desa Canggal, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung, menggelar peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-75 dengan cara unik. Mereka menggelar upacara bendera di Curug Tarung yang merupakan pertemuan tiga air terjun dari tiga mata air berbeda di ceruk gunung tersebut.

Tokoh masyarakat Gunung Wuluh, Moestamadji Seto Purwoko mengatakan, dilegarnya upacara di lokasi tersebut bukan tanpa alasan, namun karena lokasi Curug Tarung ini merupakan tempat bersembunyinya prajurit Pangeran Diponegoro dalam suksesi Perang Jawa melawan Belanda pada tahun 1825-1830. Sehingga benang merah sejarah itu untuk membangkitkan semangat nasionalisme kepada generasi sekarang.

“Lokasi ini sampai saat ini termasuk tersembunyi dan tidak dikenal dunia luar, padahal lokasinya sangat indah di bawah tiga curug atau air terjun dari mata air sehingga airnya jernih. Dulu di sinilah salah satu laskar prajurit Pangeran Diponegoro bergerilya pada saat perang melawan Belanda, tempatnya aman dari endusan musuh karena memang sangat tersembunyi dan harus melewati lembah dan gunung,”katanya, kemarin.

Pertempuran prajurit Diponegoro sendiri dengan pihak musuh dalam sejarahnya pernah pecah di ibu kota Kabupaten Menoreh yakni di Kota Parakan. Bahkan suksesi perang Jawa yang merupakan perang terbesar selama pendudukan Belanda di tanah Jawa ini berpengaruh terhadap lahirnya Kabupaten Temanggung, di mana Bupati Djojonegoro tidak mau lagi berkedudukan di Parakan ibu kota Menoreh karena telah ternoda lalu berpindah 9 kilometer yang saat ini menjadi ibu kota Temanggung.

Sementara itu, dalam upacara bendera diikuti oleh warga mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Peserta menggunakan pakaian sederhana dengan membentangkan bendera merah putih, serta membawa bambu runcing sebagai senjata tradisional dari Parakan untuk melawan penjajah.

Kadus Gunug Wuluh Munardi mengatakan, tata cara upacara dilakukan secara formil layaknya upacara kenegaraan lengkap dengan petugas upacara dengan pengibaran bendera merah putih, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Kegiatan ini tampak hikmad dan menjadi unik karena para pemuda juga mengikutinya sambil berdiri di tebing-tebing curug dari sisa batuan vulkanik yang diperkirakan usianya telah ribuan tahun.

“Keindahan alam di air terjun dan kesejukkan udara membuat upacara bertambah hikmad, mereka meresapi akan arti perjuangan para pahlawan bangsa yang dulu berjuang merebut kemerdekaan. Maka kini tugas kami generasi saat ini adalah meneruskan perjuangan dengan mengisi kemerdekaan,”katanya.


Raditia Yoni Ariya/K41

9 Komentar

  1. Like!! I blog frequently and I really thank you for your content. The article has truly peaked my interest.

  2. Like!! I blog frequently and I really thank you for your content. The article has truly peaked my interest.

  3. Like!! Thank you for publishing this awesome article.

  4. I am regular visitor, how are you everybody? This article posted at this web site is in fact pleasant.

  5. I like what you guys are usually up too. This sort of clever work and reporting!
    Keep up the fantastic works guys I’ve added you guys to my personal blogroll.

Tinggalkan Balasan