SMN/Gading Persada - SAMBUT TENAGA MEDIS: Sejumlah warga Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Jogja dengan membawa spanduk berisi dukungan kepada tenaga medis, berdiri di depan pintu masuk Balai Diklat Depdagri menyambut kedatangan sejumlah paramedis yang ikut penanganan Covid-19, Kamis (16/4).

BANYAK tenaga medis yang menjadi garda terdepan penangan pasien Covid-19 mengalami nasib tak mengenakan dari lingkungan tempat tinggalnya. Ada yang diusir dari rumahnya atau kos-kosan karena dianggap bisa menulari virus penyakit tersebut. Atau bahkan karena dari keinginan sendiri mereka yang tak mau membuat keluarganya sampai ikut terpapar. Tapi untungnya, masih ada yang bersimpati dengan profesi mereka. Seperti yang dilakukan warga di Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Jogja yang mengetahui di tempatnya oleh Pemda DIY dijadikan tempat tinggal sementara tenaga medis. Ini kisahnya:

TIDAK seperti biasanya, siang tadi, suasana sekitar Balai Diklat Depdagri, Baciro, Kota Jogja sedikit ramai. Sejumlah warga khususnya dari Kelurahan Baciro, tampak berdiri berjejar sembari . Berjejer sembari membawa sejumlah spanduk. Memakai masker dan berdiri 1,5 meter hingga 2 meter diantara mereka sebagai syarat protokol pencegahan Covid-19, para warga menyemangati para tenaga medis dan sejumlah relawan yang dibawa ke diklat. Ya, oleh Pemda DIY, balai diklat tersebut dijadikan sebagai tempat tinggal sementara para tenaga medis yang menangani pasien Covid-19.

“Kamu adalah Pahlawan Sejati, Kami ada Dibelakangmu, Ayo Teman-Teman Medis, Tetap Semangat,” adalah beberapa bunyi tulisan di poster yang dibawa sekitar 30 warga setempat.

Ketua Kampung Baciro, Syarif Hidayat menjelaskan warga sekitar tidak pernah mempermasalahkan kedatangan tenaga medis untuk tinggal sementara  di balai diklat tersebut. Justru mereka menyambut kedatangan tenaga medis dan relawan sebagai pahlawan dalam penanganan pandemi korona ini.

“Kami tidak khawatir karena sosialisasi dari pemerintah sudah baik sehingga warga menerima,” jelas Syarif, Kamis (16/4).

Syarif menyebutkan ada sekitar 25 hingga 30 Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya berdempetan dengan balai diklat tersebut. Mereka juga sudah mendapatkan sosialisasi terkait kebijakan penempatan tenaga medis di balai diklat tersebut.

“Kalau keseluruhan ada empat RW di sekitar balai diklat. Ini bentuk dukungan kami dan memberi semangat kepada mereka,” imbuhnya.

Lurah Baciro, Sulasmi memastikan bahwa tidak ada penolakan warga setempat atas keberadaan tenaga medis yang tinggal sementara di sekitar lingkungannya.

“Sudah bisa dipastikan tak ada penolakan karena sebelumnya kami sudah intens mensosialiasikannya. Lagipula tempat diklat ini lokasinya sudah tertutup, jadi aman dari akses luar,” tambah dia.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19, Berty Murtiningsih menambahkan balai diklat memiliki 141 kamar untuk menampung tenaga medis dan relawan. Untuk tahap awal ada sebanyak 9 tenaga medis dari RSUD Kota Jogja yang menempati balai diklat tersebut.

“Rencananya akan ada 25 orang lagi dari RSUD Pratama,” sambung Berty.

Pendaftaran

Dia menyebutkan, saat ini masih dibuka pendaftaran bagi tenaga medis dan relawan yang ingin tinggal sementara di balai diklat tersebut selama menangani Covid-19. Mereka dipastikan mendapatkan layanan mulai dari kebutuhan logistik hingga sterilisasi.

Terpisah, Kepala Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Regional Yogyakarta, Suroyo mengungkapkan Balai Diklat Depdagri memiliki 141 kamar dimana satu kamar terdiri dari dua kamar tidur.

“Tapi untuk menjaga ketenangan dan kesehatan maka satu kamar hanya satu orang tenaga medis atau relawan,” tutur dia.

Suroyo menuturkan akan ada manajemen khusus bagi tempat isolasi itu dengan tetap berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 DIY. Koordinasi mulai dari kebutuhan konsumsi hingga sterilisasi dari virus.

“Sesuai koordinasi dengan pak Sekda DIY (Kadarmanta Baskara Aji) ada manajemen khusus. Intinya para tenaga medis mendapatkan tempat yang layak dan tidak berdampak sosial,” katanya.

Untuk kamar, tambahnya, layak ditempati sebagai aktivitas harian. Ini karena selama ini peruntukannya bagi kegiatan pendidikan dan pelatihan. Untuk operasional efektif berlangsung pekan depan. Mekanisme yang disiapkan satu kamar untuk satu tenaga kesehatan. Tujuannya menjaga ketenangan saat beristirahat. Serta menghindari kemungkinan penularan apabila tenaga kesehatan terjangkir Covid-19.

“Yang perlu kami siapkan pelayanannya. Memberikan pemahaman ke SDM kami bagaimana melayani tenaga medis. Mungkin secara psikologis disiapkan. Untuk kamar memang ada dua tempat tidur, tapi hanya diisi satu orang saja,” ujarnya.

Kedatangan paramedis di Balai Diklat disambut langsung Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poewardi. Heroe yang juga Wakil Walikota Yogyakarta itu pun terharu dengan sambutan yang dilakukan warga kepada paratenaga medis.

“Tadi ada perwakilan warga yang menghubungi kami bahwa mereka akan menyambut para pejuang kemanusiaan. Ditunjukkan dengan poster-poster itu dan masyarakat sangat terbuka menerima kedatangan tenaga kesehatan untuk bisa menjalankan tugasnya dengan baik,” kata Heroe sambil terbata-bata.

Sementara itu perwakilan tenaga medis Rika Septihandayani mengaku terharu dengan sambutan yang diberikan para warga Baciro.

“Ada rasa sedih juga karena harus berpisah dengan keluarga karena tidak kembali ke rumah. Tapi ini juga sumpah profesi kami daripada kami mungkin bisa jadi menulari keluarga kami tercinta, makanya kami yang selalu berinteraksi langsung dengan pasien Covid-19, untuk sementara beristirahat di tempat ini dahulu,” tandas perawat yang bertugas di RSUD Kota Jogja tersebut.


Gading Persada