Wamenag Minta ASN Tak Terjerumus Paham Radikal

TEMANGGUNG, SM Network – Wakil Menteri Agama RI, Zainut Tauhid Sa’adi meminta kepada aparatur sipil negara (ASN) untuk mengawal nilai-nilai agama dan kebangsaan agar tidak terjerumus pada paham radikal. Sebagai alat negara ASN merupakan bagian penting, bahkan semestinya bisa memberikan teladan bagi masyarakat sekitarnya.

“ASN memiliki tanggung jawab terhadap janjinya sebagai pegawai negeri untuk melaksakan tugas berdasar Pancasila. Komitmen itu menjadi salah satu hal utama. Sehingga dia, punya kewajiban bagaimana menjaga nilai-nilai Pancasila agar tetap bisa dilaksanakan, dikembangkan di masyarakat, terutama agar tidak terjerumus dalam radikalisme,”ujarnya dalam kegiatan pembinaan kepada ratusan ASN Kemenag di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Temanggung, Sabtu (5/9).

Menurut dia, akhir-akhir ini sering muncul berbagai paham yang bertentangan dengan ahlusunah wal jamaah. Maka dia pun meminta agar ASN menempatkan agama sesuai porsinya. Meski saat ini ada moderasi beragama namun jangan menempatkannya pada koridor yang tidak pas, yakni tidak terlalu radikal dan juga tidak terlalu liberal.

Zainut menguraikan, bisa menjadi terlalu liberal bila hanya berpegang pada demokrasi dan hak asasi manusia saja. Contohnya, muncul kasus perkawinan laki-laki dengan laki-laki atas naman hak asasi, tapi jika ditelaah justru tidak sesuai norma maupun kepatutan sebab ada sesuatu yang tidak semestinya.

“Radikal artinya menafasirkan teks-teks ayat itu sesuai dengan teksnya atau menafsirkan ayat tidak sesuai kontesknya akan melahirkan paham ekstrim. Misalnya jihad itu hanya dimaknai sebagai perang saja, padahal di negara damai, darussalam seperti Indonesia belum tentu cocok diterapkan. Namun di sini jihad harus dimaknai dengan makna yang lain, yaitu perang melawan kemiskinan, perang melawan kebodohan, perang melawan penindasan dan sebagainya,”katanya.

Sebenarnya, yang harus dipahami terhadap paham radikalisme itu adalah paham yang tidak hanya bersumber dari agama, radikalisme bisa bersumber dari yang lain. Setidaknya ada muatan yang disebut sebagai radikalisme, pertama dia menistakan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya melakukan teror, melakukan bom bunuh diri. Kemudian mengingkari kesepakatan nasional yang sudah disepakati bangsa Indonesia, yaitu berdasarkan Pancasila dan nilai-nilai UUD 1945.

“Kebhinekaan dan NKRI itu merupakan kesepakatan nasional dan harus menjadi komitmen bersama. Kalau ada paham yang menolak Pancasila kemudian tidak mengakui UUD 1945 inilah yang masuk kategori paham radikal. Selain itu, paham yang merasa kelompoknya paling benar, sementara yang lain itu salah atau sesat juga masuk dalam kategori radikal,”katanya.

Kepala MAN Temanggung Khoironi Hadi mengapresiasi kedatangan Wamenag di sekolahnya untuk memberikan pembinaan kepada ratusan ASN karena hal itu sangat penting. Kehadiran Zainut setidaknya memberikan suntikan semangat dan berpikir jernih. Selain itu, kedatangan orang nomor dua di Kementerian Agama RI tersebut untuk meninjau pembangunan di sekolah yang dipimpinnya.

Kepala Kanwil Kemenag Jateng Musta’in Ahmad menuturkan di era disurbsi ini tingkat kompetisi lebih ketat sehingga ASN harus semakin kreatif, terutama dengan perkembangan tekhnologi. Kepala Kemenag Temanggung Ahmad Muhdzir mengatakan, pada kesempatan ini dilaunching Sekolah Moderasi Remaja yang diharapkan dapat melahirkan generasi emas pengamal Alqur’an dan sunnah, toleran, cinta damai, berkarakter.

Tinggalkan Balasan