Wajib Tahu, Penggunaan dan Cara Kerja Alat Pendeteksi Longsor

MUNGKID, SM Network – Musim hujan dengan intensitas cukup tinggi terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Hal tersebut mengakibatkan beberapa titik menjadi rawan longsor terutama untuk wilayah yang ada di dataran tinggi. Komunitas Selorejo Peduli Menoreh, dan relawan Relawan Bukit Menoreh lakukan sosialisasi dan pemasangan Early Warning System (EWS) sederhana dengan menggunakan alat seadanya.

Sejak dulu kami melakukan koordinasi dengan masyarakat, bahwa keadaan di lereng Menoreh ini rawan longsor dan masyarakat peduli akan hal tersebut. Maka dari itu dibuat EWS sementara untuk deteksi dini yang dibuat secar sederhana menggunakan kayu dan bambu,” jelas Pujo Prayetno selaku ketua Selorejo Peduli Lingkungan disela-sela membuat alat EWS, Selasa (28/1).

Menurut Pujo, apabila tanah bergerak EWS akan berbunyi, dan saat hujan lebat warga bisa memantau alat tersebut sendiri. Selain itu, Ketua Garuda Bukit Menoreh, Soim, alat tersebut dipasang sebelum memasuki musim hujan.

“Kita sadar bahwa rumah kita berada di daerah rawan longsor. Maka kita harus tau betul karakter tebing-tebing yang ada di sekitar kawasan Menoreh ini. Sehingga EWS sederhana ini akan kita sosialisasikan kepada warga agar bisa mendeteksi lingkungannya ketika ada pergerakan tanah,” ujar Soim.

Tiga Titik

Pemasangan EWS sederhana tersebut pada Selasa (28/1) akan dipasang di tiga titik. “Nantinya akan kita kembangkan di dusun-dusun yang ada di desa-desa sekitar Kawasan Menoreh ini,” terangnya. Diharapkan secara mandiri masyarakat dapat menggunakan alat ini, karena dinilai sangat sederhana dan efektif.

“Cara kerjanya yaitu satu bambu berada di tanah kokoh dan yang satu diletakkan di tanah yang berpotensi ada gerakan. Kemudian dihubungkan menggunakan papan, kita ambil ukuran sekitar satu sampai dua meter dan di potong disela-sela papan untuk melihat pergeseran,” jelas Soim. Pembuatan alat tersebut dinilai murah dan dapat menggunakan kayu sisa bangunan.

EWS sederhana ini merupakan alat deteksi dini yang dapat mendeteksi pergerakan tanah masiv atau tidak. “Kalau gerakan itu masiv kami akan segera mencari solusi untuk mengungsi atau bagaimana, tapi selama ini dengan alat tersebut aman,” jelas Soim. Namun, EWS sederhana tersebut juga memiliki kelemahan yakni warga harus melihat alat tersebut setiap hari setiap hari untuk melihat apakah tanah bergerak atau tidak. “Kita harus melihat setiap hari, sebab bel akan berbunti jika tanah bergerak banyak,” tambahnya.


Dian Nurlita

Tinggalkan Balasan