Virus Corona Melanda, Nasib Buruh Harian Makin Merana


KEBUMEN, SM Network – Pademi virus Corona (Covid-19) berdampak pada seluruh sendi kehidupan masyarakat. Salah satu yang terpukul adalah masyarakat bawah yang bekerja di sektor non formal.

Di tengah imbauan pemerintah agar tetap di rumah, para buruh harian seperti tukang becak, pedagang sayur keliling, pedagang kali lima, ojek online  seperti memakan buah simalakama. Jika harus berada di rumah, tentu dapur di rumah tak bisa ngebul, sedangkan jika harus tetap bekerja di jalanan risiko tertular Covid-19 cukup tinggi.

Faktanya, banyak masyarakat yang memilih tetap bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga. Meskipun Pemkab Kebumen menetapkan Kebumen berstatus tanggap darurat non alam pasca satu orang dinyatakan meninggal akibat positif Covid-19.

Seorang tukang becak Budiono (60), warga Desa Kalirejo, Kebumen mengakui sejak wabah Corona muncul, sekolah diliburkan, dan orang-orang lebih banyak berdiam diri di rumah, penghasilannya anjlok. Hal ini berdampak pada penghasilan yang diterima setiap hari yang semakin tak menentu.

“Saya berangkat dari pagi sampai siang ini belum dapat penumpang satu pun. Biasanya satu atau dua pasti dapat,” terang Budiono, Senin (30/3/2020)  Maka dia pun benar-benar berbahagia saat ada seorang dermawan yang membagikan paket sembako kepada dirinya.

Meskipun tidak mendapatkan uang, dia pun bisa pulang dengan membawa sembako untuk keluarganya di rumah. Saat ditanya mengapa nekat bekerja menarik becak, Budiono mengaku jika tidak keluar rumah dia tidak ada pemasukan.  Dia berharap kepada pemerintah agar memberikan solusi menghadapi ancaman corona.

“Mau gimana lagi ya, saya sebenarnya mau di rumah tapi pemerintah seharusnya punya jalan keluar,” ujarnya berharap memperhatikan nasib seperti profesinya. Bagikan Sembako Sementara itu, prihatinan melihat belum berjalan secara optimal imbauan pemerintah, Wahyu Siswanti seorang PNS di Pemkab Kebumen membagikan 100 paket bahan makanan pokok.

Bantuan diberikan kepada tukang becak, juru parkir, pedagang keliling, tukang sayur serta ojek online yang kedapatan sedang mangkal di setiap sudut kota Kebumen. “Mereka yang sekiranya membutuhkan sebagai pejuang nafkah itu yang kita prioritaskan untuk dibantu. Karena sebetulnya ingin memaksa dia di rumah tapi dia kan butuh makan juga,” jelasnya.

Wahyu Siswanti menambahkan, salah satu kunci memutus mata rantai penyebaran Covid-19 tidak terlepas dari kepedulian antar sesama. “Nyuruh orang di rumah tapi tidak ada solusi, jadi satu-satunya jalan kita mengawali punya kesadaran untuk ikut membantu,” katanya.

Menurut perempuan yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Bappenda Kebumen itu, apa yang dilakukannya dapat memantik pihak lain dalam berlomba-lomba memberikan stimulus ekonomi konkrit kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan begitu, persoalan pencegahan penyebaran virus Corona khusunya di Kebumen dapat segera teratasi.

“Banyak kok orang mampu di Kebumen, banyak banget. Kalau ingin mereka tidak di jalan solusinya kita bantu mereka agar tetap di rumah,” imbuhnya. Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen Ahmad Ujang Sugiono tidak menutup kemungkinan mengalihkan perjalanan dinas ASN untuk mengatasi dampak virus corona mengingat saat ini baik orang dalam pemantauan (ODP) maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP) terus meningkat.

Hal itu mengacu penyampaian Presiden Joko Widodo yang meminta kepada para menteri hingga pejabat pemerintah di daerah agar memangkas rencana belanja APBN hingga APBD yang dianggap tidak menjadi prioritas. “Kita lihat aturannya dulu. Kalau aturannya boleh kita laksanakan. Coba nanti kita cermati aturannya seperti apa,” ujarnya.


Supriyanto

Tinggalkan Balasan