Upacara Tawur Agung Kesanga Dilaksanakan Terbatas

MAGELANG, SM Network – Berbeda dari biasanya, upacara Tawur Agung Kesanga (Mecaru) bagi umat Hindu dalam perayaan Hari Raya Nyepi tahun 2020/Tahun Saka 1942 ini dilaksanakan secara terbatas, Selasa (24/3). Upacara yang diadakan di Pura Wira Buwana, kompleks Akmil Kota Magelang ini hanya diikuti sekitar 50 umat.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Magelang, I Gede Suarti mengatakan, kalau biasanya dihadiri hingga 1.000 orang, kali ini terbatas hanya perwakilan tokoh-tokohnya saja. Mereka yang hadir hanya sekitar 50 orang saja.

“Hal ini sesuai himbauan dari pemerintah untuk tidak mengumpulkan massa yang banyak. Juga guna mencegah penyebaran virus korona yang saat ini sudah menjadi pandemi dunia,” ujarnya.

SM/Asef F Amani – SUHU TUBUH: Umat Hindu harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh oleh Dokkes Polres Magelang Kota sebelum mengikuti upacara Tawur Agung Kesanga (Mecaru) di Pura Wira Buwana, kompleks Akmil Kota Magelang.

Dia menuturkan, pihaknya mengikuti prosedur dalam upacara pencegahan penyebaran virus tersebut. Antara lain pemeriksaan suhu badan para umat yang mengikuti sembahyang, menyediakan tempat cuci tangan beserta sabun, dan menjaga jarak tempat duduk antar-umat yang sembahyang.

“Karena ada korona ini, dalam sembahyang Mecaru, kami juga turut mendoakan secara khusus agar pandemi Covid-19 yang ada di muka bumi segera lenyap. Tentu kami berharap kondisi saat ini segera berakhir dan kita bisa kembali ke kehidupan yang tenang,” katanya.

Bapak yang juga anggota Polres Magelang Kota ini menjelaskan, sembahyang Tawur Agung yang dipimpin Pinandita Mangku Wayan Kadek ini memiliki makna untuk menjaga keharmonisan antara Buana Agung (alam semesta) dan Buana Alit (umat manusia).

“Sebelumnya, Minggu (22/3) lalu, umat Hindu di Kota dan Kabupaten Magelang telah melaksanakan upacara Melasti (penyucian diri). Melasti bertujuan agar alam raya beserta isinya di dunia ini terjaga kelestariannya dan dijauhkan dari malapetaka,” jelasnya.

Selepas Tawur Agung Kesanga, katanya, umat Hindu melaksanakan sembahyang di rumah masing-masing. Kemudian di hari H Nyepi, Rabu (25/3) akan melakukan Catur Brata (empat pantangan), yakni amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungaan.

“Amati geni itu berpantang menyalakan api, amati karya menghentikan aktivitas kerja, apati lelanguan menghentikan kesenangan, dan amati lelungaan itu pantang bepergian,” paparnya.

Gede menambahkan, dalam kesenyapan hari suci Nyepi ini, umat Hindu melaksanakan mawas diri, menyatukan pikiran, dan menyatukan cipta, rasa, serta karsa. Hal ini dalam rangka menuju hakikat diri dan inti sari kehidupan semesta, yakni melaksanakan berata penyepian berupa upawasa (tidak makan dan minum), mona berata (tidak berkomunikasi), dan jagra (tidak tidur).

“Di situasi saat ini, kami berharap Hari Raya Nyepi menjadi momen untuk kita mawas diri dan berdoa agar roh-roh jahat, seperti virus korona dapat kembali ke alamnya. Virus itu tidak lagi mengganggu kehidupan manusia,” ungkapnya. (Asef Amani)

Tinggalkan Balasan