SM/Dian Nurlita - PENTAS : Sujono saat memperagakan pentas wayang jangkrik untuk mengedukasi masyarakat.

MUNGKID, SM Network – Banyak cara yang digunakan untuk menjaga lingkungan di sekitar kita. Salah satunya yang dilakukan seniman asal Magelang ini, Sujono, yang menggunakan wayang serangga sebagai media edukasi kepada masyarakat. Pembuatan wayang serangga sendiri berawal dari keprihatinannya terhadap para petani, yang banyak mengeluh terhadap panen hasil bumi.

“Dulu saat ada bom Bali pertama waktu awal-awalnya pengrajin topeng itu sepi. Karena sepi itu saya ambil alih beli traktor, dan setiap hari saya bajak sawah dan bikin topeng,” ujar Jono.

Otomatis di persawahan itu ada interaksi dengan para petani, lanjut Jono, disana mereka banyak sekali yang mengeluh ketika membicarakan tentang hasil bumi. “Karena menurut petani ketika hasil bumi meningkat, maka penggunaan pestisida juga banyak. Misalnya untuk pengendalian hama pakai pestisida, untuk meningkatkan hasil tanamannya tetap pestisida,” terangnya.

Melihat hasil bumi yang tidak seimbang dengan penggunaan pestisida itu, akhirnya para petani mengeluh. “Maka saya tiap hari saya ke sawah melihat banyak serangga seperti semut, belalang, maka saya ciptakan karakter wayang serangga,” ungkap Jono.

Terkadang saat waktu istirahat, Sujono banyak mengobrol dengan petani lainnya. Disitu ia mengajak para petani, agar menggunakan pestisida organik dan pupuk alam. “Pak begini saja kalo bertani itu pestisidanya dikurangin, paling tidak pupuk alam yang diperbanyak karena itu akan meningkatkan kesehatan,” ajaknya pada para petani lain.

Itulah awal cerita Sujono membuat wayang serangga sebagai media edukasi kepada masyararat, sengan tema yang berisi pesan-pesan hal tersebut. Hal tersebut sudah dilakukannya sejak tahun 2010 hingga sekarang.

Pria kelahiran 11 November 1970 ini, tidak hanya mengedukasi masyarakat untuk kembali ke alam. Namun ia juga belajar secara autodidak cara pembuatan pestisida organik. “Pernah saya diundang oleh universitas Brawijaya di Malang, yang dimana selain saya sebagai pembicara tetapi saya belajar juga. Seperti lalat buah itu menggunakan bunga Mendi yang di deplok dan disaring untuk tanaman cabai. Kemudian hama wereng, menggunakan tembakau yang di cencem sekitar seminggu kemudian diambil airnya untuk disemprot. Atau ada juga yang daun tembakau langsung ditebar di padi itu,” jelasnya kepada awak media.

Jono juga bercerita banyak universitas-universitas ternama mengundangnya untuk belajar juga sekaligus pembicara. “Awalnya saya diundang sebagai seniman. Tapi karna materi yang saya bawakan tentang lingkungan, banyak berbagai universitas mengundang saya seperti di Universitas Brawijaya Malang, IPB, Bali,” ujarnya.

Jalannya tak selalu mulus, terkadang ia juga sering menemukan kesulitan. Menurutnya para petani sering dihadapkan dengan tuntutan pola hidup yang lebih tinggi. “Terutama petani, mereka ingin meningkatkan hasil bumi yang ditanam. Tapi tidak bisa lepas dari penggunaan pestisida yang juga tinggi. Padahal jika mau menggunakan pestisida alami, awalnya memang agak menurun tapi sementara. Tetapi petani kan butuh instan untuk meningkatkan hasil bumi dengan waktu yang lebih cepat,” kata Sujono.

Karena hasil bumi yang ditanam menggunakan pestisida organik, maka tergolong organik. Sehingga jika dilihat dari segi harga lebih unggul dua kali lipat. “Namun kendala petani di sini masih bingung menjual hasil panenannya kepada tengkulak, nah ditengkulak itu harganya standar,” pungkasnya.

Ia juga menjelaskan beberapa kelebihan penggunaan pestisida organik. Selain lebih sehat, hasil bumi yang dipanen memiliki proses pembusukan yang terbilang lambat. “Kalau pestisida kimia itu memang rasanya enak, tapi untuk organik tidak lekas membusuk. Nah dari selain itu kondisi tanah saat penanaman lebih subur yang menggunakan pestisida organik,” jelasnya.

Meskipun baru 25 persen petani dari total 150 orang petani di desanya yakni di Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, yang menggunakan pestisida organik. Namun sebagai pelaku seni, ia terus menyuarakan hal tersebut meskipun hanya beberapa persen. “Terutama kampung sini sudah mengurangi penggunaan pestisida. Perlu waktu sekitar dua tahun untuk menyadarkan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga berharap agar aksinya tersebut bisa didukung oleh pemerintah. “Harapannya ada kerja sama juga dari pihak pemerintah, karena untuk menggalakan pola hidup yang sehat pemerintah juga harus turut andil,” kata Jono.

Selain menggalakan penggunaan pestisida organik di desanya, Jono juga menginisiasi meniadakan bendera parpol di desanya. “Waktu jaman suharto (orba) di sini itu ada tiga partai besar yang mendominasi di kampung saya. Nah disini itu kan bebas, bebas memasang dan memilih. Tapi akhirnya dari dampak kebebasan itu banyak yang rebutan tempat dan berkelahi. Akhirnya saya memutuskan jangan ada bendera parpol sampai sekarang. Kalo orang pilkada mau pendekatan di sini ya gak papa tetapi dilakukan secara door to door,” papar Jono.


Dian Nurlita/Ita

17 KOMENTAR

  1. I do accept as true with all of the ideas you have
    introduced on your post. They’re really convincing and will certainly work.
    Still, the posts are too quick for novices. Could you please
    lengthen them a bit from subsequent time?
    Thank you for the post.

  2. Admiring the persistence you put into your site and detailed information you
    provide. It’s good to come across a blog every once
    in a while that isn’t the same outdated rehashed information. Fantastic
    read! I’ve saved your site and I’m adding your RSS feeds to my
    Google account.

    Also visit my website: Agen Dominoqq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here