Ubah Paradigma, Pariwisata didorong Jadi Penghasilan Masyarakat

MAGELANG, SM Network – Paradigma pembangunan pariwisata di Indonesia mulai tahun 2020 ini berubah. Kalau dalam RPJMN 2015-2019 ditekankan pada mendatangkan lebih banyak wisatawan, saat ini di RPJMN 2020-2024 diamanahkan pada target utama penghasilan masyarakat dari pariwisata.

Hal itu diungkapkan Deputi III Bidang Koordinasi dan Infrastruktur Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Ridwan Djamaludin dalam Rapat Koordinasi Destinasi Super Prioritas Borobudur (Joglosemar) oleh Badan Otorita Borobudur (BOB) di Grand Artos Hotel Magelang, Kamis (6/2/2020).

“Sekarang tekanan kita bukan lagi pada upaya mendatangkan wisatawan yang banyak, tapi bagaimana dampak positif dari pariwisata itu untuk masyarakat. Maka, penting adanya rakor ini untuk membahas program kepariwisataan dan identifikasi potensi yang bisa digarap bersama,” ujarnya.

Dia menuturkan, destinasi wisata bukan hanya sekadar objek wisata yang bisa dikunjungi. Tapi lebih dari itu bagaimana ketika para pelancong tiba di suatu daerah dapat merasa itu adalah destinasi, meski belum sampai pada objek wisatawanya, seperti Candi Borobudur.

“Sejak turis itu turun dari pesawat di bandara sudah merasa ia tiba di destinasi. Caranya, kita sambut mereka dengan ramah dan buat senyaman mungkin selama ia berwisata. Kalau di sini ya di Jogja atau Jawa Tengah,” katanya.

Senada disampaikan Dirut BOB, Indah Juanita bahwa, target utama sekarang memprioritaskan quality tourism experince (kualitas kesan wisatawan). Utamanya di wilayah Joglosemar. Ia pun berkepentingan besar dalam rapat koordinasi selama dua hari bersama stakeholder ini.

“Kita bahas rencana program pengembangan kepariwisataan di Kawasan Pariwisata Borobudur. Lalu sinkronisasi program antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta mendapat masukan dari stakeholder non-pemerintah tentang kondisi lapangan dan kendalanya,” jelasnya.

Ia mengaku, pihaknya juga berkeinginan agar wisatawan yang datang ke Borobudur ada keinginan berkunjung ke destinasi lainnya. Sebab, di masing-masing lokasi mereka akan menemukan pengalaman yang berbeda.

“Kalau mereka hanya mendapat pengalaman yang sama, maka mereka tidak akan datang ke semua tempat. Dampaknya lama tinggal akan berkurang. Maka, sinkronisasi lintas daerah juga penting agar bisa kita kembangkan bersama-sama segala potensi yang ada,” paparnya.

Indah menyebutkan, saat ini pihaknya sudah menyelesaikan masterplan pengembangan wisata di lahan otorita seluas sekitar 309 hektar di Kabupaten Purworejo. Bahkan, sudah ada beberapa investor yang siap berinvestasi.

“Kalau sekarang sudah ada DeLoano Glamping, itu hanya sebagian kecil dari total 300an hektar lahan otorita. Glamping itu baru sebatas laboratorium. Ke depan akan kita bangun vila, hotel, area adventure, sentra UMKM, amphiteatre, dan fasilitas pendukung,” ungkapnya. (Asef Amani)

Asef F Amani
SM NetworkIG @asef_amani Area lampiran

Tinggalkan Balasan