Tim Konservasi Pindah 527 Telur Penyu

KEBUMEN, SM Network – Tim Konservasi Penyu Pokdarwis Gajah Gunung, Desa Jogosimo, Kecamatan Klirong, Kebumen merelokasi ratusan telur penyu jenis lekang dari sarang aslinya ke sarang semi alami di area penetasan telur penyu Konsevasi Penyu Obyek Wisata Kalibuntu, Selasa (16/6).

Total ada sebanyak 527 butir telur yang dipindahkan. “Untuk kali ini kita merelokasi sebanyak 195 butir telur penyu hasil temuan warga yang didapat dari dua sarang,” terang salah satu Tim Konservasi Penyu Pokdarwis Gajah Gunung, Chairul Huda saat ditemui di sekitar area penetasan telur penyu.

Sebelumnya ada sekitar 332 butir telur yang dipindahkan. Sehingga total telur yang direlokasi sebanyak 527 butir.

Dijelaskan, pemindahan telur itu sudah keempat kalinya sejak kurang lebih satu setengah bulan yang lalu.

Koordinator Konservasi Penyu Pokdarwis Gajah Gunung, Kastam, menuturkan, idealnya telur-telur satwa liar tersebut dibiarkan menetas di sarang alaminya. Kendati demikian, kegiatan relokasi telur tersebut dilakukan sebagai upaya mengamankan telur-tulur itu dari tangan-tangan tak bertanggungjawab dan ancaman hewan pemangsa telur penyu.

“Relokasi telur juga dilakukan dalam rangka melindungi telur penyu dari gelombang laut yang cukup labil,” imbuhnya.

Terlebih untuk sarang penyu yang ada di dekat muara atau terlalu dekat dengan garis laut yang sangat berpotensi abrasi, sehingga membahayakan sarang telur penyu itu sendiri. Oleh karena itu, pihaknya merelokasi telur-telur penyu tersebut ke lokasi yang dinilai paling aman.

Sejauh ini, berkaca pada tahun-tahun sebelumnya. Upaya relokasi telur yang kami lakukan bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti dengan banyaknya telur yang menetas. “Tahun lalu saja kita sukses melepasliarkan kurang lebih 550 tukik atau anakan penyu ke habitatnya,” jelasnya.

Kastam menambahkan, sarang semi alami yang dibuat oleh tim konservasi dilakukan dengan menggali pasir sedalam kurang lebih 40-60 sentimeter untuk menanam telur. Disekitar sarang semi alami itu juga dipasang pagar pengaman. Selain untuk mengamankan telur dari ancaman yang mengintai, pembuatan sarang semi alami tersebut juga dilakukan untuk mempermudah pengawasan.

Untuk masa penetasan sendiri yang sudah-sudah memakan waku kurang lebih 40-50 hari, imbuhnya.

Kastam memprediksi, puncak musim penyu bertelur di kawasan setempat akan terjadi pada akhir Juni hingga awal Agustus mendatang. Sementara awal musim penyu bertelur itu sendiri terjadi pada pertengahan Mei dan akan berakhir hingga September mendatang.


Arif Widodo/K5

Tinggalkan Balasan