SM/Dananjoyo : Anak-anak pengungsi Gunung Merapi bermain ular tangga yang difasilitasi oleh relawan, di Barak Pengungsian di Lapangan Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DIY, Minggu (29/11).

JOGJAKARTA, SM Network – Selama tiga pekan lebih sebanyak 236 orang di Kabupaten Sleman tinggal di tempat pengungsian. Mereka merupakan warga kelompok rentan dari kawasan rawan bencana (KRB) III Gunung Merapi.

Rasa kejenuhan mulai dialami para warga. Namun, apabila ke rumah, risiko yang ditanggung jauh lebih besar. Kondisi di pengungsian memang tidak senyaman di rumah sendiri. Oleh karena itu, warga yang mengungsi perlu diberikan berbagai pendekatan yang tepat.

SM/Dananjoyo : Anak-anak pengungsi Gunung Merapi bermain ular tangga yang difasilitasi oleh relawan, di Barak Pengungsian di Lapangan Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, DIY, Minggu (29/11).

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman, Makwan kepada media, kemarin.

“Kejenuhan pasti muncul. Namun mereka tetap bertahan karena di atas risikonya besar,” ujarnya.

Menurut Makwan, terdapat pos pengaduan perempuan dan anak di pengungsian yang bertugas mengatur kegiatan warga.

Seperti kegiatan bermain bagi anak-anak, senam sehat untuk orangtua, dan pengajian.

Di samping itu, terdapat pula para petugas yang terus mengajak para pengungsi untuk beraktivitas.

Menurut pantauan Suara Merdeka ada juga tim psikososial, dari relawan desa tangguh bencana.

Namun demikian, karena kondisi pandemi Covid-19, kegiatan maupun pendekatan yang dilakukan tetap tidak bisa sebebas pada kondisi normal.