SMN/Gading Persada - CEK ALAT PRODUKSI: Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih (kanan) didampingi stafnya mengecek alat-alat produksi usai membuka Bimbingan Teknis Wirausaha Baru IKM Berbasis Pondok Pesantren dalam Rangka Program Penumbuhan Wirausaha Baru di Pondok Pesantren di Royal Ambarukmo Hotel Jogja (14/3).

SLEMAN, SM Network- Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibawaningsih mengakui sejumlah industri yang ada dibawah penanganannnya sudah terkena imbas adanya wabah korona (Covid-19). Efek terutama adalah mandeknya ekspor ke sejumlah negara yang terjangkit virus tersebut.

“Sektornya industri aneka kan ada perhiasan, mainan anak, dan juga alat musik. Ini sudah kena imbas korona,” kata Gati usai membuka Bimbingan Teknis Wirausaha Baru IKM Berbasis Pondok Pesantren dalam Rangka Program Penumbuhan Wirausaha Baru di Pondok Pesantren di Royal Ambarukmo Hotel Jogja (14/3).

Menurut dia, imbas yang cukup terasa dari ketiga sektor industri itu terkait ekspor barang-barang ke luar negeri. Beda halnya dengan penjualan di dalam negeri yang tidak terkena dampak signifikan.

“Paling terlihat ekspor karena nilainya kan terdaftar. Ini ekspornya sudah mulai menurun. Pasalnya, ini kan order yang sudah tahun lalu dan tidak bisa kirim ke sana (negara tujuan). Apalagi bahan baku banyak dari luar negeri contohnya dari China. Nah ini yang tertahan,” ungkap dia.

Gati menjelaskan, meski saat ini di China, khususnya Kota Wuhan keadaan sudah berangsur-angsur baik dan mulai ada kebangkitan perekonomian, namun menurut dia muncul masalah baru.

“Ketika ekonomi di sana sudah mulai bangkit maka diharapkan industri kita kan bisa jalan lagi. Tapi ada masalah lain, karena korona ini sudah bukan endemi lagi tapi pandemi yang terjadi di beberapa negara. Tidak hanya di China saja maka demand-nya itu berkurang, tapi kita mau ekspor ke suatu negara jadi tidak mudah,” keluhnya.

Di Jakarta, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebelumnya mengatakan, ada 19 industri yang mendapat relaksasi bea masuk bahan baku impor untuk memperkecil dampak negatif virus korona bagi perekonomian Indonesia.

“Berkaitan dengan bea masuk impor bahan baku, kami memastikan industri mendapatkan kecukupan bahan baku agar mereka bisa kembali melakukan operasionalnya (karena) 30 persen bahan baku berasal dari China,” sambung Agus Gumiwang (13/3).

“Sekarang industri harus mencari alternatif dari negara lain, karena keterbatasan, tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari negara lain, harganya pasti tinggi dan pasti berebutan karena mereka mengalami problem yang sama. Relaksasi atau pembebasan bea masuk tidak boleh mengganggu industri dalam negeri dan tidak boleh ada produk impor barang jadi dalam paket ini. Pemerintah tidak mau ada free rider. Berdasarkan usulan KADIN ada 19 industri manufaktur,”  tandas dia.


Gading Persada

3 KOMENTAR