SM/Dananjoyo

SM Network – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjelaskan hukum tidak menjalankan shalat jumat selama tiga kali berturut-turut. Utamanya saat Indonesia sedang dilanda wabah virus corona atau Covid-19 seperti saat ini.

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam mengatakan, pihaknya perlu memberikan pencerahan kepada warga Muslim mengingat banyak pertanyaan yang ditujukan kepada MUI terkait masalah tersebut.

“MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa seseorang yang berada di kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi, Sholat Jumat bisa diganti dengan sholat zhuhur di rumah,” kata Asrorun Niam.

Sementara, warga DKI dan sekitarnya, setelah kasus pandemi covid-19 sudah tidak shalat selama dua kali, dan tiga kali jika hari ini tetap tidak shalat Jumat. Bagaimana hukumnya jika tidak sholat Jumat 3 kali berturut-turut?

Menanggapi masalah ini perlu disampaikan hal sebagai berikut:

Ada tiga jenis orang yang tidak melaksanakan sholat Jumat.

Pertama, orang yang tidak shalat Jumat karena inkar akan kewajiban Jumat, maka dia dihukumi sebagai kafir.

Kedua, orang Islam yang tidak sholat Jumat karena malas. Dia meyakini kewajiban Jumat tapi dia tidak sholat Jumat karena kemalasan dan tanpa adanya uzur syar’i, maka dia berdosa, atau ‘ashin. Melakukan maksiat. Jika tidak Jumatan tiga kali berturut tanpa uzur maka Allah mengunci mati hatinya.

Ketiga adalah orang Islam yang tidak Jumatan karena ada uzur syar’i, maka ini dibolehkan.

Menurut pandangan para ulama fikih, uzur syar’i tidak sholat Jumat antara lain sakit. Ketika sakitnya lebih dari 3 kali Jumat, dia tidak sholat Jumat tiga kali berturut-turut pun tidak berdosa.

Uzur syar’i berikutnya adalah kekhawatiran terjadinya sakit. Nah, dalam kondisi ketika berkumpul dan berkerumun itu diduga kuat akan terkena wabah atau menularkan penyakit, maka ini menjadi uzur untuk tidak Jumatan (sholat Jumat).

Ada beberapa udzur syar’i lain yang dibolehkan meninggalkan Jumat, di antaranya hujan deras yang menghalangi menuju masjid, juga karena adanya kekhawatiran akan keselamatan diri, keluarga, atau hartanya.

Hingga kini, wabah covid-19 masih belum bisa dikendalikan dan diatasi. Potensi penularan dan penyebarannya masih tinggi. Dengan demikian, uzdur syar’i yang menyebabkan tidak dilaksanakannya perkumpulan untuk ibadah seperti shalat Jumat masih ada.


SM Network/Kim