SM/Raditia Yoni Ariya - BERI TAUSIYAH: Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj memberikan tausiyah kepada warga NU di Kampus STAINU, Selasa (28/1) petang.

TEMANGGUNG, SM Network – Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, jika ditelaah secara mendalam di dalam Alquran tidak ada terminologi yang mengajarkan pendirian negara Islam dan khilafah. Justru di dalamnya ada perintah untuk membentuk umat agar keluar dari kejahiliyahan (kebodohan, keterbelakangan) menuju manusia yang berakhlak lebih baik.

“Allah dalam Alquran memerintahkan Nabi Muhammad agar membentuk organisasi besar namanya umat. Kalau panjenengan baca Quran dari awal sampai akhir tidak akan kita jumpai terminologi negara Islam, apalagi khilafah Islamiyah. Tidak ada itu, tidak ada, yang ada di Quran adalah “saya jadikan kamu Muhammad dengan umatmu yang maju, yang keren, yang moderen, dibanggakan, berfungsi,” begitu,”ujarnya dalam kunjungannya di Temanggung, Selasa (28/1).

Menurut dia, memang diharuskan menegakan aqidah dan syariah Islam. Amanatnya adalah membangun, menata, membesarkan, meningkatkan kehidupan di muka bumi ini (insaniyah). Kemudian membangun manusia dari sisi keilmuan, kebudayaan, humanisme, dan religi, serta menguasai tekhnologi terapan. Tak kalah penting adalah meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Saij juga menyinggung adanya pihak yang mudah membid’ahkan berbagai ritus doa seperti tahlil, lalu peringatan Isra Mi’raj, ziarah kubur dan lain-lain. Padahal hal-hal itu ada manfaatnya. Adapun bid’ah secara harfiah berarti perkara baru yang tidak baik dan tidak ada contoh sebelumnya.

“Supaya kita moderen, supaya kita moderat harus cerdas. Nek ora cerdas mboten saget moderen maka berpikirnya pendek. Kalau tidak cerdas juga bisa menjadi radikal baik kanan maupun kiri, maka beragama harus total berbudaya maksimal. Kita harus mencontoh Walisanga yang dalam menyebarkan agama Islam tidak meninggalkan budaya,”katanya.

Para wali melakukan hal itu pun karena mempunyai dasar kuat, yakni mensinergikan antara agama dengan budaya, sehingga orang-orang di Jawa dan nusantara ini merasa dihargai. Lebih dari itu tidak ada unsur keterpaksaan saat menyatakan masuk Islam.

“Jadi masuknya ke Islam bukan karena paksaan, bukan karena teror, bukan pula karena sekadar teriakan takbir, tidak ada itu. Ketika para ulama datang mereka (masyarakat) justru diharuskan bisa membaca Quran. Contoh sinergi agama dan budaya adalah tradisi slametan, di sini bukan menaruh sesajen tapi di slametan misalnya dengan menyembelih kambing dan memasak nasi kemudia dimakan bersama-sama di mana sebelumnya diiringi doa permohonan keselamatan maka dalam tradisi Jawa disebut slametan,”katanya.


Raditia Yoni A

1 KOMENTAR