SM/Arif Widodo : Marsino

KEBUMEN, SM Network – Menantu Wapres KH Ma’ruf Amin, Eno Syafrudien langsung tersiar masyarakat akan maju Pilbup 9 Desember 2020. Itu setelah poster bergambar Eno beserta pasangannya, Ridwan menempati berbagai sudut kota hingga pelosok-pelosok desa di Kebumen.

Hal tersebut mendapat tanggapan dari Mantan Ketua Karang Taruna Kebumen, Marsino, Kamis (13/8). Menurutnya, kemunculan pasangan bakal calon bupati – wakil bupati itu dinilai telah menyatu dengan situasi dan kondisi masyarakat. Terlebih di saat Kebumen tengah menghadapi kenormalan baru (new normal).

“Ini yang selanjutnya dipahami oleh masyarakat bahwa Kebumen new normal diidentikkan dengan Eno Iyes,” kata Marsino yang juga Mantan Wakil Ketua DPD PAN Kebumen itu. Dijelaskannya, Eno Iyes sempat dilontarkan Eno saat Ngendong (berkunjung) di Kebumen pada 25 – 29 Juni lalu.

Hingga kemudian mendapat sambutan masyarakat dengan meminta sang tokoh asal Desa Jatijajar Kecamatan Ayah itu kembali Ngendong. Kini, kata yang sudah terlanjut merasuk pada masyarakat pun terungkit lagi setelah merebak poster Eno – Ridwan sejak Selasa (11/8).

Marsino melanjutkan, Eno Iyes merujuk pada integritas yang dimiliki Eno atau akronim dari nama Mantan Anggota DPRD Kebumen periode 2004 – 2009 itu. Meliputi no egois, no elitis dan no eksklusif (E-No). Penjabaran tersebut sekaligus menjadi spirit dalam menghadapi new normal di Kebumen. Sedangkan kata Iyes menandakan lebih dari sekadar setuju.

Lebih lanjut, keberadaan Eno bersama Ridwan juga seperti menggantikan kotak kosong, yang selama ini ramai diperbincangkan masyarakat terkait konsekuensi jika Pilbup nanti hanya ada calon tunggal. Namun Marsino yang teman dekat Eno saat sama-sama menjadi pengurus PAN Kebumen itu mengaku belum mengetahui kendaraan partai politiknya.

Diketahui, PAN sendiri dikabarkan telah bergabung dengan partai lain untuk mengusung kandidat yang mengarah calon tunggal. Bahkan beberapa partai lainnya juga telah mendeklarasikan mendukung pasangan calon yang sama tersebut. Dan realitas yang terjadi sebelum kemunculan Eno – Ridwan, justru kotak kosonglah yang melejit.

Menanggapi pilihan kotak kosong atau kolom tanpa gambar pada surat suara, Marsino menyampaikan sah-sah saja. “Jika pemilih tidak menyukai calon tunggal yang ada, maka pilihannya tentu kotak kosong,” imbuhnya. Pilihan itu pun realistis saat partai politik ternyata tidak memberikan pilihan dalam pesta demokrasi langsung tersebut. Adapun mengenai anggapan minor terhadap pilihan kotak kosong, Marsino tak mau meladeninya.

Ia beralasan itu seperti Buzzer, yang dikenal sebagai orang berkampanye di media sosial. Di mana sang Buzzer umumnya terkena sindrom dan cenderung posessif (memiliki sifat pengakuan yang berlebihan). “Tapi masyarakat sekarang kan sudah pada cerdas. Kalau misalnya sudah menjatuhkan pilihan pada kotak kosong, mereka juga tidak akan goyah dengan serangan Buzzer,” ucap Marsino.


Arif Widodo / K5

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here