Tersangka Siswa Hanyut Bertambah Dua Orang

SLEMAN, SM Network РKepolisian DIY membuktikan janjinya untuk terus melakukan pendalaman atas kasus meninggalnya 10 siswa SMPN 1 Turi Sleman saat mengikuti kegiatan susur Sungai Sempor. Senin (24/2), polisi kembali menetapkan dua orang sebagai tersangka masing-masing berinisial R dan DS.

“Tadi siang  setelah melakukan gelar perkara, penyidik menetapkan dua tersangka baru dengan inisial R dan DS. Hari ini juga dimulai penahanan kepada yang bersangkutan,” ungkap Kabid Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto, Senin (24/2).

Sebelumnya, penyidik telah menetapkan IYA (37), warga Caturharjo Sleman sebagai tersangka. Sementara, dua tersangka yang baru saja ditetapkan ini belum diketahui perannya. Namun hingga saat ini, polisi telah memeriksa 22 orang saksi terdiri dari 7 pembina Pramuka, 2 siswa yang selamat, kepala sekolah, dan 6 orang tua korban.


Ditemui usai berkunjung ke SMPN 1 Turi, Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum (LKBH) PB PGRI, Ahmad Wahyudi mengatakan, pihaknya akan memberi bantuan pendampingan hukum terhadap guru yang dijadikan tersangka. Organisasi PGRI telah menyiapkan pengacara untuk mendampingi tersangka.

“Disiapkan satu pendamping hukum dari PGRI provinsi dan satu dari pusat bekerjasama dengan kabupaten setempat,” ucapnya.

Ahmad menilai, prosedur perencanaan kegiatan susur sungai yang diadakan Pramuka SMPN 1 Turi pada Jumt (21/2) lalu sudah benar. Tidak ada unsur kesengajaan. Namun saat disinggung fakta adanya tersangka atas kejadian yang merenggut nyawa 10 siswa itu, dia berujar ikhwal dugaan kelalaian adalah kewenangan penyidik. Ranah organisasi PGRI berhubungan dengan kode etik.

“Ditinjau dari prosedur administrasi sudah benar, termasuk pembina yang penunjukannya berdasar SK. Tapi sejauh ini kami melihatnya masih sebatas prosedur, belum mendalami materiil,” terangnya.

Namun demikian dengan adanya kejadian ini, PGRI menilai perlu evaluasi terhadap di seluruh wilayah. Kegiatan yang dilaksanakan di luar sekolah perlu diterapkan persyaratan yang mempertimbangkan faktor keamanan.

Ketua Umum PGRI Unifa Rosidi menjelaskan, kunjungan ini selain untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa, sekaligus menelusuri duduk persoalan yang ada. Menurutnya, kegiatan tersebut telah terencana dengan baik. “Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Jangan ada penghakiman sepihak bahwa guru melakukan itu (kesengajaan-red),” pintanya.


(Amelia Hapsari/CN19/SM Network)

Tinggalkan Balasan