JOGJAKARTA, SM Network – Siapa sangka jika Museum Pusat Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) Dirgantara Mandala (Muspusdirla) yang berada di kawasan Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto Yogyakarta dahulunya adalah bekas sebuah pabrik gula peninggalan Belanda. Ditempat itu berdiri sebuah menara air setinggi sekitar 10 meter sebagai pertanda bekas pabrik gula tersebut.

“Sepertinya hanya ini (menara air) bangunan bekas pabrik gula yang masih asli dan tersisa. Itu pun tandon air (tempat menampung) nya juga sudah tidak ada,” kata Kepala Seksi (Kasi) Koleksi Muspusdirla Yogyakarta Letkol Sus Giyanto, kemarin.

Ya, jangan bayangkan menara air yang dimaksud di Muspusdirla seperti halnya menara air tinggi yang masih bisa dijumpai di kawasan alun-alun Kota Magelang misalnya. Cukup sulit memang menemukan bekas sisa-sisa bangunan atau apu pun namanya sebagai pertanda bekas pabrik gula jaman penjajahan Belanda di kawasan Muspusdirla.

Itu pun diakui oleh Letkol Giyanto. Bahkan, pria yang pernah menjadi Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Lanud Adisutjipto Yogyakarta itu menyebut kalau menara air itu menjadi satu-satunya bekas bangunan pabrik gula yang tersisa,  pernah menara ini digunakan sebagai sirine.

“Ya pernah dipakai sebagai sirine. Digunakan terutama saat akan berkumandang adzan salat bahkan kalau bulan Ramadan dipakai sebagai penanda waktu berbuka puasa,” jelas perwira menengah TNI AU dengan dua melati dipundaknya itu.

Mewakili Kepala Muspusdirla Kolonel Sus Dede Nasrudin, Giyanto pun mulai menggambarkan bagimana bekas bangunan pabrik gula bisa disulap menjadi tempat yang disebut-sebut sebagai museum Angkatan Udara terbesar di Asia Tenggara itu. Muspusdirla sendiri merupakan museum yang digagas TNI AU untuk mengabadikan peristiwa bersejarah di lingkungan TNI AU.

Sebelumnya Di Jakarta

Museum ini sebelumnya berada berada di Jalan Tanah Abang Bukit, Jakarta dan diresmikan pada 4 April 1969oleh Panglima AU Laksamana Roesmin Noerjadin lalu dipindahkan ke Yogyakarta pada 29 Juli 1978. Dia menjelaskan kalau museum ini dibangun untuk mengabadikan dan mendokumentasikan seluruh kegiatan dan peristiwa bersejarah di lingkungan TNI AU.

“Awalnya, museum berada di Jalan Tanah Abang Bukit, Jakarta. Akan tetapi, museum kemudian dipindahkan ke Yogyakarta karena dianggap sebagai tempat penting lahirnya TNI AU dan pusat kegiatan TNI AU. Dengan pertimbangan bahwa koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, terutama Alutsista Udara berupa pesawat terbang yang terus berkembang sehingga gedung museum di Kesatrian AKABRI Bagian Udara tidak dapat menampung dan pertimbangan lokasi museum yang sukar dijangkau pengunjung, maka Pimpinan TNI-AU memutuskan untuk memindahkan museum ini lagi,” papar dia.

Nah, setelah ini lah, lanjut Giyanto, pimpinan TNI-AU kemudian menunjuk gedung bekas pabrik gula di Wonocatur Lanud Adisutjipto yang pada masa pendudukan Jepang digunakan sebagai gudang logisitik sebagai Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala. Pada tanggal17 Desember 1982Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani sebuah prasasti. Hal ini diperkuat dengan surat perintah Kepala Staf TNI-AU No.Sprin/05/IV/1984 tanggal 11 April 1984 tentang rehabilitasi gedung ini untuk dipersiapkan sebagai gedung permanen Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala.

Dalam perkembangan selanjutnya pada tanggal 29 Juli 1984 Kepala Staf TNI-AUMarsekal TNI Sukardi meresmikan penggunaan gedung yang sudah direnovasi tersebut sebagai gedung Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala dengan luas area museum seluruhnya kurang lebih 4,2 hektar. Luas bangunan seluruhnya yang digunakan 8.765 meter persegi.

“Ada 2.000 barang koleksi di sini, dimana 60 diantaranya merupakan pesawat terbang berbagai jenis, tipe dan usia. Tertua seperti pesawat Hercules  buatan 1945,” tandas Giyanto.

Gading Persada