Ternyata di Magelang Ada Kampung Arab, Ini Sejarahnya

KAMPUNG arab atau sebuah wilayah yang banyak didiami orang keturunan bangsa arab di Indonesia identik dengan daerah yang berada di pesisir pantai utara (Pantura). Namun, siapa sangka di Kota Magelang yang berada di tengah-tengah pulau Jawa dan jauh dari pantai juga memiliki kampung tersebut.

Adalah Kampung Samban yang diyakini kuat sebagai titik adanya Kampung Arab di Kota Tidar. Meski juga diketahui tersebar di beberapa kampung lagi, seperti Badakan, Botton, Kauman, dan Tuguran, tapi Kampung Samban memiliki jejak sejarah yang kuat sebagai lokasi adanya kampung tersebut.

Berdasarkan penuturan Peneliti Sejarah Islam asal Kulonprogo Jogjakarta, Ahmad Athoillah, adanya kampung arab di Kota Magelang terbilang menarik. Sebab, tidak biasanya komunitas orang arab tinggal di wilayah tengah atau agak selatan pulau Jawa. “Biasanya mereka banyak beredar di wilayah pesisir utara (Pantura).

Keberadaan kampung arab di Pantura sangat kental. Nah, ternyata di Kota Magelang ada kampung arab yang memiliki kaitan erat juga dengan wilayah Pantura,” ujarnya saat ditemui di Masjid Bait Al-Shalihin Kampung Samban. Kandidat doktor jurusan sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini memaparkan, pembentukan komunitas atau kampung arab ini dimulai dari menantu RT Alwi Danuningrat I (Bupati pertama Magelang), yaitu R Husain bin Abdullah bin Muhammad Al-Attas bersama dengan putra-putranya yang membuat pusat pemukiman keluarga arab.

“RT Alwi Danuningrat I sendiri merupakan kyai Arab-Jawa yang awalnya bernama Alwi Danukrama. Gelar RT Alwi Danuningrat I ini didapat setelah pindah dari Keraton Jogja ke Bojong, Kedu dan menjadi Bupati Magelang pertama (1813-1825),” katanya. Dituturkannya, Alwi ini merupakan keturunan Ahmad Basy-Syaiban dan menjadi bagian penting keluarga Kepatihan Jogjakarta, karena bagian dari keluaga Patih Danurejo I. R Husain yang merupakan menantu RT Alwi Danuningrat ini kemudian membuat pusat pemukiman keluarga arab di Samban pada paruh kedua abad ke-19.

“Dalam catatan LWC van den Berg, anggota komunitas arab di Karesidenan Kedu pada tahun 1859 berjumlah 38 orang. Pada tahun 1867, jumlah tidak bertambah signifikan, kecuali terdapat 2 orang arab yang tinggal di Distrik Probolinggo (Salam, Magelang) dan 1 orang di Kabupaten Temanggung,” jelasnya.

Dari catatan itu, lanjutnya, warga arab di Magelang kemudian bertambah menjadi 47 orang pada tahun 1870 dan menjadi 93 orang pada tahun 1885. Pada tahun 1893 jumlah meningkat lagi menjadi sekitar 300-an orang atau setingkat dengan populasi warga arab di Pasuruan, Probolinggo, Besuki, dan Pamekasan Jawa Timur.

Athoillah menyebutkan, pada awal abad ke-20, pemukiman sebagian komunitas arab memusat di Kampung Tuguran oleh dua saudara sepupuan. Dua keluarga ini awalnya tinggal di Kauman, lalu pindah ke Poncol dan pindah lagi ke Badakan, yang pada tahun 1930 oleh Pemerintah Hindia Belanda digunakan untuk barak militer.

“Dalam perkembangannya, kampung arab yang dikenal adalah Tuguran dan Samban. Komunitas arab di Magelang sendiri mendirikan sekolah Al-Iman pada tahun 1932 setelah Ust Saggaf al Jufri dari Pekalongan datang ke Magelang pada tahun 1928,” paparnya.

Ulfa Hanum binti Abu Bakar Assegaf (53) membenarkan keberadaan Kampung Samban sebagai lokasi kampung arab. Selain banyak tinggal warga keturunan Arab-Jawa, juga terdapat masjid yang diyakini menjadi pusat perkembangan kampung tersebut.

Masjid tersebut bernama Bait Al-shalihin yang didirikan oleh putra dari R Husain, yakni Salih Attas pada awal abad ke-20. “Awal berdiri berupa langgar/mushola kecil berbahan kayu. Selain untuk shalat, langgar ini juga untuk pengembangan pendidikan agama Islam. Mushola direnovasi dan tambah besar hingga menjadi masjid yang bisa untuk ibadah shalat Jumat,” ungkap Hanum.


Asef Amani

Tinggalkan Balasan