Ternyata Ada Bunker di Rumah Sakit Panti Rapih Jogjakarta

JOGJAKARTA, SM Network – SEPERTI halnya bangunan-bangunan yang sarat nilai sejarah, maka keberadaan bunker atau ruang bawah tanah biasanya sudah melekat didalamnya. Seperti dijumpai di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Rumah sakit yang berlokasi di Jalan Cik Di Tiro 30 Kota Jogja itu siapa yang mengira ternyata memiliki sebuah ruangan bawah tanah. Dibangun pada 1928 oleh masyarakat Katolik Jogja dan sejumlah suster dari Belanda, rumah sakit ini juga ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY sebagai Benda Cagar Budaya kategori Bangunan Umum sejak 2010 lalu.

“Ruang bunker-nya ada di dekat bangsal Maria,” kata staf Hubungan Masyarakat (Humas) RS Panti Rapih Yogyakarta Rita Kristiari saat menemani Suara Merdeka berkeliling ke kawasan kompleks rumah sakit, Senin (15/7).

Menurut Rita, bunker tersebut saat ini tidak dipergunakan. Pihak rumah sakit hanya merawat ruangan bawah tanah tersebut. Dari pengamatan Suara Merdeka, bunker itu saat ini ditutup tiga pintu dimana untuk turun ke bawah ada sebuah anak tangga. Sementara di sisi lainnya terdapat semacam cerobong yang diperkirakan sebagai ruang masuknya cahaya dan udara ke dalam bunker.

“Kalau menurut cerita, bunker ini dahulu berfungsi sebagai ruang persembunyian para suster, dokter dan perawat terutama saat pertama kali Jepang menjajah Indonesia. Termasuk saat mereka berada di Jogja,” tutur Rita.

Ya, saat pendudukan Jepang di Indonesia-lah pada 1942 bisa dikatakan Rumah Sakit Panti Rapih sempat mengalami masa suram. Rumah Sakit , nama mula Rumah Sakit Panti Rapih yang dibangun pertama kali pada 1928 dengan peletakan batu pertama oleh wanita asal Belanda oleh Ny. C.T.M. Schmutzer van Rijckevorsel, tidak terhindar pula dari penderitaan di pendudukan Jepang. Pengelolaan rumah sakit menjadi kacau balau. Keadaan keuangan rumah sakit benar‑benar menyedihkan. Sementara itu para suster Belanda diinternir dan dimasukkan kamp tahanan Jepang.

“Dan saat itu yang paling pedih rumah sakit Onder de Bogen diambil alih menjadi rumah sakit pemerintah Jepang. Keadaan rumah sakit makin parah. Pemerintah Jepang juga menghendaki agar segala sesuatu termasuk bahasa, yang berbau Belanda tidak digunakan yang berakibat nama rumah sakit ini harus diganti nama pribumi. Hingga akhirnya oleh  Mgr. Alb. Soegijopranoto, SJ, Bapa Uskup pada Keuskupan Semarang memberi nama baru yakni Rumah Sakit Panti Rapih yang berarti Rumah Penyembuhan,” paparnya.

Sesudah masa pendudukan Jepang,  lanjut Rita, saat itu para Suster CB dapat kembali lagi ke Rumah Sakit Panti Rapih. Dengan semangat cinta kasih, mereka merawat para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia, diantaranya Panglima Besar Jenderal Sudirman.  Sampai saat ruang perawatan Jenderal Sudirman masih bisa ditemui. Ruang perawatan ini menjadi satu-satunya ruangan perawatan kelas VVIP di tempat tersebut, tepatnya di bangsal Maria.

“Semua bangunan masih asli terutama kayu dan kusen-kusennya. Lalu kamar mandinya juga. Ruangan VVIP 8 ini paling lengkap fasilitasnya. Ada tempat tidur penunggu, mini bar dan ruang konsultasi dokter secara khusus. Tarifnya sekitar Rp 2 juta permalam,” ungkap Rita.

Sebagai bentuk penghormatan kepada perawatan yang dilakukan Rumah Sakit Panti Rapih, lanjut Rita, Panglima Besar Jenderal Sudirman berkenan merangkai sebuah sajak indah dan ditulis tangan dengan hiasan yang cantik khusus untuk Suster Benvunito. Seorang suster CB yang merawatnya selama di rumah sakit.

“Sajak yang ditulis sendiri Pak Dirman berjudul Rumah Nan Bahagia, saat ini masih tersimpan baik. Kami juga membangun semacam monumen berbentuk kepala Pak Dirman di bagian depan ruang perawatan VVIP nomor 8 ini,” tandas Rita.


Gading Persada

Tinggalkan Balasan