Terkendala Lahan, Pemkab Sleman Wacanakan Bangun Rusun Desa

SLEMAN, SM Network – Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman mewacanakan pembangunan rumah susun (rusun) desa. Jika pendanaan lancar, detailed engineering design (DED) akan disusun pada tahun depan termasuk penjaringan lokasi, dan penyelesaian legalitas lahan.
Selanjutnya, pengerjaan fisik ditargetkan terlaksana pada tahun 2022.

“Harapan kami, setiap tahun bisa dibangun 2-3 rusun desa supaya daftar tunggu pendaftar rusun bisa cepat diselesaikan. Saat ini ada seribuan pendaftar yang belum terseleksi,” kata Kepala Seksi Perumahan Formal DPUPKP Sleman Nurrochmawardi.

Pengelolaan rusun desa nantinya dipasrahkan kepada pemerintah desa. Lahannya juga memanfaatka tanah kas desa. Pria yang akrab disapa Kelik ini menuturkan, latar belakang digulirkan gagasan rusun desa lantaran pemda kewalahan memenuhi penyediaan lahan untuk program rusun pusat. Disamping itu persyaratan lain seperti penyediaan prasarana, sarana, dan utilitas umum (PSU) serta pengelola juga dirasa memberatkan.

“Kendala yang paling berat adalah penyediaan lahan. Rusun yang kita punya tidak ada yang tanahnya punya pemda, semua masih sewa,” ujarnya.

Sejauh ini, DPUPKP baru berkomunikasi dengan satu desa yakni Sariharjo, Ngaglik. Tanah kas di desa itu dipandang kurang tertata. Sementara pemerintah desa merasa kewalahan jika menanganinya sendiri. Sedangkan bagi pemkab, keberadaan rusun desa dapat menekan angka backlog perumahan.

“Desa yang potensial untuk dibangun rusun, sudah didata. Tahun depan, kita lakukan penjaringan desa mana yang berminat,” ucapnya.

Adapun skema pembiayaan program rusun desa, pengadaan bangunan akan didanai Pemkab Sleman kemudian dihibahkan ke pemerintah desa untuk dikelola. Pembangunan rusun diproyeksikan menelan anggaran sekitar Rp 5 miliar untuk bangunan satu tower berisi 50 unit kamar. “Jumlah hunian sekitar separo dari rusun pusat, tapi spesifikasi hampir sama,” kata Kelik.

Keberlanjutan dari program ini adalah mendorong pertumbuhan rumah murah. “Kalau bisa berupa rusunami (rumah susun sederhana milik) karena belum ada di Sleman, sekaligus mengatasi kendala keterbatasan lahan,” imbuhnya.

Namun menurut Kelik, pangsa rusunami di DIY terbilang berat. Sebab, penghasilan masyarakat tergolong rendah sedangkan harga rusunami dibatasi dari kisaran Rp 250 juta hingga Rp 300 juta.

Tinggalkan Balasan