Terdakwa Susur Sungai Sempor Divonis Bersalah, PGRI Legawa

SLEMAN, SM Network – Persidangan kasus susur Sungai Sempor yang bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, sudah masuk tahap akhir. Senin (24/8), majelis hakim yang diketuai Annas Mustaqim menjatuhkan hukuman 1 tahun 6 bulan kepada masing-masing terdakwa.

Dalam perkara ini, ada tiga orang yang duduk di kursi terdakwa masing-masing Isfan Yoppy Andrian (37), Danang Dewo Subroto (58), dan Riyanto (58). Ketiganya disidang dalam berkas terpisah atas kasus yang mengakibatkan tewasnya 10 siswa SMPN 1 Turi, dan 5 orang luka-luka.

Dalam amar vonisnya, majelis hakim menyatakan para terdakwa bersalah melanggar ketentuan Pasal 359 dan 360 ayat 2 jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. “Terdakwa terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana karena kealpaan mengakibatkan orang lain mati, dan luka-luka yang dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu, menjatuhkan hukuman penjara selama satu tahun enam bulan,” kata ketua hakim, Annas.

Hal yang memberatkan, selain peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam pada keluarga korban, para terdakwa juga tidak melakukan manajemen resiko saat mendampingi pelaksanaan kegiatan susur Sungai Sempor pada 21 Februari 2020 silam. Adapun pertimbangan yang meringankan karena keluarga terdakwa telah memberikan santunan kepada keluarga 10 korban yang meninggal dunia.

Vonis itu lebih ringan dari tuntutan jaksa yakni hukuman 2 tahun penjara. Atas keputusan itu, pihak jaksa maupun penasihat hukum terdakwa menyatakan pikir-pikir akan mengajukan banding atau menerima.
Ditemui usai sidang, kuasa hukum Isfan Yoppy Andrian, Oktryan Makta meminta agar peristiwa ini dijadikan evaluasi kegiatan ekstrakurikuler di masa mendatang.

“Semua pihak baik sekolah, kwartir, dan dinas harus memperhatikan lagi segala aspek yang kegiatannya melibatkan guru. Aturan mainnya diperjelas,” katanya.

Sebagaimana diketahui, dua terdakwa yakni Isfan Yoppy, dan Riyanto berprofesi sebagai guru di SMPN 1 Turi. Sedangkan terdakwa Danang Dewo Subroto adalah pekerja swasta. Menanggapi vonis itu, Ketua PGRI Sleman Sudiyo menyatakan menerima dengan lapang dada. “Sangat wajar karena kami meyakini peristiwa itu benar-benar musibah. Kalaupun ada kelalaian seperti yang disangkakan adalah manusiawi,” ujarnya.

Dia pun berharap kasus ini bisa menjadi bahan intropeksi dan pembelajaran, khususnya bagi anggota PGRI. Putusan hakim tersebut dinilainya sesuai dengan target PGRI. Sejak awal, kata Sudiyo, PGRI menargetkan empat hal yaitu status PNS terdakwa aman, tuntutan rendah, vonis seringan-ringannya, dan tidak ada tersangka baru.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan