Tahap Pertama, 2.754 Nakes Telah Disuntik Vaksin

MAGELANG, SM Network – Vaksinasi Covid-19 tahap pertama di Kota Magelang, 25-28 Januari 2021 telah selesai dilakukan. Sebanyak 77,7 persen atau 2.754 tenaga kesehatan (nakes) telah disuntik vaksin.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang, dr Majid Rohmawanto mengatakan, ada 461 orang yang gagal divaksin. Sementara 61 lainnya ditunda karena tidak lolos saat uji skrining.

“Yang batal itu artinya tidak lolos skrining secara tetap, karena pernah positif, punya kormobid. Sementara yang tunda ini karena baru demam, flu, tensi naik, dan faktor lainnya,” ujarnya.
Dia menuturkan, vaksinasi Covid-19 berbeda dari imunisasi biasa. Pasalnya, seleksi atau tahapan pendataan dilakukan secara ketat, bahkan menggunakan aplikasi digital.

“Peserta harus mendaftarkan ke sistem, jika tidak masuk, jadi tidak bisa. Ada 16 pertanyaan di dalam aplikasi itu, sehingga calon yang divaksin harus menjawab dengan penuh kejujuran,” katanya.
Berdasarkan data Dinkes Kota Magelang, para penerima vaksinasi tahap pertama di Kota Magelang, rata-rata tidak mendapati masalah berarti. Dengan vaksinasi diharapkan dapat membentuk antibodi dari dalam tubuh.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Magelang, Windarti Agustina yang menjadi penerima vaksin pertama di Kota Tidar mengaku tak mengalami reaksi kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) atau efek samping.
“Sejauh ini tidak ada efek negatifnya. Tidak pusing, apalagi mual-mual. Hanya terasa saat disuntik saja. Harapan kami, tentu masyarakat tidak ada yang takut lagi divaksin,” ungkapnya.

Sebelumnya, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah merancang aplikasi primary care (P-Care). Aplikasi ini dibuat untuk mempermudah vaksinator, karena data dapat terintegrasi dengan tabulasi dan dashboard Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) RI.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Magelang, Dyah Miryanti menjelaskan, beberapa keunggulan dari aplikasi itu karena pencatatan data peserta vaksinasi tidak akan tertukar. Data tersebut sudah disesuaikan dengan Nomor Induk Kependudukan (NIK) penerima vaksin.

P-Care, katanya, juga mampu membaca kode quick response (QR). Dengan demikian, proses registrasi tidak butuh waktu lama. Perkembangan program vaksinasi secara nasional juga bisa langsung dilihat oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

“Cara kerjanya, vaksinator akan mencocokkan identitas calon penerima vaksin dengan data di P-Care. Selanjutnya di meja skrining calon penerima vaksin diminta menjawab 16 pertanyaan yang tersaji dalam aplikasi P-Care vaksinasi,” paparnya.

Dyah menyebutkan, ke-16 pertanyaan ini hanya berkutat pada riwayat kesehatan calon penerima vaksin. Pada prinsipnya, dari 16 pertanyaan itupun sebenarnya sudah dapat diketahui bahwa yang bersangkutan benar-benar calon penerima vaksin.

“Pertanyaan ini salah satunya, apakah pernah terkena Covid-19, apakah sedang hamil, menyusui atau tidak, dan sebagainya,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan