Syukur Raih 40 Persen, Kotak Kosong Bermetamorfosa Jadi Koko Pede

KEBUMEN, SM Network – Kotak kosong (Koko) mendapatkan suara cukup signifikan mendekati 40 persen dalam hitung cepat pelaksanaan Pilbup Kebumen 9 Desember 2020. Kendati kalah dari pasangan calon Arif Sugiyanto-Ristawati, raihan suara tersebut cukup disyukuri. Sehingga, para pegiat Koko dari berbagai wilayah di Kebumen pun kemudian melaksanakan syukuran.

Bahkan mereka berencana menyatukan dalam satu wadah, sebagai bentuk metamorfosa Koko. “Keinginan kita masih dengan nama Koko, tapi akronimnya tidak lagi kotak kosong,” kata salah satu Presidium Masyarakat Kotak Kosong (Mas Koko), Mundir Hasan saat tasyakuran di Bale Cafe, Gombong, Kebumen, Kamis (10/12) malam.

Syukuran yang diisi doa bersama dan makan bareng itu berlangsung gayeng dengan dilanjutkan diskusi hingga larut malam. Tampak tokoh pendidikan Doktor Kadar serta Presidium Mas Koko lainnya. Di antraanya Panggih Prasetya, Bambang Priyambodo, Pawito dan Aziz Prayitno. Diskusi yang dipandu salah satu pegiat Koko, Asmakhudin itu terlebih dahulu menyinggung rencana jangka pendek untuk evaluasi dan investigasi dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan Pilkada.

Untuk urusan tersebut diserahkan kepada tim dari Sahabat Kebumen Lawyer Club (KLC) yang terdapat mantan pimpinan KPU dan Bawaslu Jateng Doktor Teguh Purnomo. Dugaan pelanggaran yang mengemuka antara lain terkait wuwuran (bagi-bagi uang) yang dikritik melalui kaos bertuliskan “Bupati Limolas Ewu” atau lima belas ribu rupiah sesuai nominal rata-rata wuwuran di daerah termiskin Se-Jateng itu.

Doktor Kadar menyampaikan, jangka menengah dengan membentuk wadah relawan Koko diminta berlanjut ke jangka panjang. Tidak hanya berhenti di tingkat kabupaten saja, tetapi hingga kecamatan dan desa-desa. Para anggota pun diminta ikut terlibat melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

Titik tekan itu mengingat, sembilan partai yang memiliki 50 kursi di DPRD Kebumen berada di barisan calon tunggal yang hasilnya masih menunggu rekapitulasi suara di tingkat PPK dan KPU Kebumen. Hasil hitung cepat menempatkan pasangan calon Arif-Rista unggul dengan 390.769 suara atau sekitar 60 persen, sedangkan kotak kosong 249.992 suara atau sekitar 40 persen dari total suara sah 640.761. Adapun suara tidak sah 22.479. Untuk DPT Kebumen sebanyak 1.037.802 jiwa.

“Bagi Koko yang memperoleh suara sekitar 40 persen, tentu ini menjadi dorongan semangat yang baik dengan niat tulus ikhlas membangun Kebumen,” ucap Kadar. Diharapkan keberadaannya mampu mengikis korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) di Kebumen serta mengangkat daerah agar tidak termiskin lagi.

Prasetya Panggih menyampaikan kemunculan Koko mengiringi perayaan Idul Adha tahun 2020 di Gombong. Tidak lama kemudian dibentuk Presidium Mas Koko sebanyak sembilan orang di Rumah Makan Pring Wulung Kebumen. Hingga kemudian bermunculan relawan Koko dalam menghadapi Pilkada 2020. Kini, setelah pemungutan suara dilaksanakan, Koko bermetamorfosa. Ia melontarkan nama Koalisi Konco Peduli Demokrasi (Koko Pede). “Koko Pede mantap,” ucap tokoh muda asal Desa Brecong, Kecamatan Buluspesantren itu.

Ditambahkan Aziz Prayitno, suara Koko benar-benar suara hati nurani masyarakat tanpa adanya embel-embel atau jual beli. “Kami peduli demokrasi dengan modal apa adanya, tanpa sokongan apapun. Untuk alat-alat sosialisasi seperti kandi bodol (karung bekas) juga sumbangan. Bahkan kaos bodol disablonkan,” tandasnya.

Pihaknya yang mendukung Koko sedari awal sadar diri, bahwa untuk memperoleh kemenangan cukup berat. Namun dengan adanya gerakan Koko, setidaknya menjadi perlawanan atas matinya demokrasi. Di mana masyarakat bisa melakukan perlawanan dan berdaulat tanpa intervensi elite partai.

Mengenai isu wuwuran, Aziz mengungkapkan bahwa perjuangan Koko murni. “Dan apapun yang kita peroleh adalah tanpa money politik. Itu keberhasilan,” terang Aziz. Hal sama juga ditegaskan pihak pasangan calon melalui surat resmi. Namun diketahui banyak yang menyangsikannya.

Aziz pun demikian. Lantaran, terdapat celah mengenai pembuktian secara hukum yang terputus dengan tim sukses maupun pasangan calon. Sedangkan Koko bukan peserta Pilkada. Di samping itu juga tidak memiliki tim sukses. Untuk itu, evaluasi dan investigasi adanya dugaan pelanggaran dalam pelaksanaan Pilkada tersebut akan ditelusuri lebih lanjut.

Tinggalkan Balasan