Susah Sinyal, Mahasiswi Magelang Belajar Dipinggir Jalan

MUNGKID, SM Network – Semenjak pandemi Covid-19 Dinas Pendidikan mewajibkan seluruh sekolah untuk melakukan kegiatan belajar dengan sistem daring. Hal tersebut tentu memiliki beberapa kendala diantaranya susah sinyal.

Di Desa Kenalan, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang terlihat dua orang siswa tampak tekun belajar meski berada pinggir jalan. Mereka tidak punya pilihan lain sebab tempat ini merupakan salah satu spot yang memungkinkan mendapatkan sinyal atau jaringan internet untuk belajar online atau daring.

Teara Noviyanti, seorang mahasiswi Universitas Muhammadiyah Magelang prodi management semester tiga, setiap harinya harus belajar secara daring di luar rumah karena susah sinyal.

“Karna di rumah susah sinyal, sebelumnya sudah ada provider Telkomsel yang masuk. Namun untuk akses aplikasi zoom, masih keluar masuk karena sinyal tidak stabil,” terang Teara saat tidak sengaja ditemui di pinggir jalan, Jumat (18/9).

Dari rumah menuju titik spot yang memiliki akses internet, ia harus menempuh jarak sejauh satu kilomeret. “Dari rumah sampai sini satu kilo meeter,” akunya.

Setiap harinya ia belajar di Balkondes Kenalan. Namun jika Balkondes sedang di reservasi oleh pengunjung, maka alternatifnya ia harus belajar di pinggir jalan. “Jadi kalo ada kuliah pagi jam tujuh biasanya di sini, karena balkondes belum buka. Tapi kalo balkondes sudah buka pindah ke sana. Kalo ada pengunjung ya kita mau gak mau harus di sini,” imbuhnya.

Ia mengaku bahwa di desanya sering terjadi pemadaman listrik. “Sebenarnya di rumah bisa namun sinyal tidak stabil. Jadi hanya bisa lewat Wa, kalau untuk zoom susah. Disini juga lumayan sering listrik mati. Misalnya ada pemadaman listrik semua mati ya terpaksa balik ke sini lagi,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan banyak teman-temannya yang mengungsi ke rumah sanak saudara di luar Desa Kenalan. “Ada juga yang pada mengungsi ke rumah saudaranya yang diluar sini. Ya cari sinyal biar belajarnya mudah,” katanya.

Kendala lain juga dirasakannya ketika turun hujan. “Pernah sewaktu hujan ya belajarnya di sini sambil berdiri pakai payung,” tambahnya. Ia berharap agar pemerintah bisa memfasilitasi, agar kegiatan daring dilakukan dinrumah.

“Harapannya agar bisa diberi fasilitas yang layak, bukan cuma saya saja tapi untuk seluruh anak-anak desa sini yang membutuhkan sinyal untuk belajar. Yang lain juga sama seperti saya. Bahkan gurunya juga keliling karena memang ga ada sinyal dan bahkan ada yang tidak memiliki hp jadi luring,” jelas Teara.

Menurut Teara, ada dua titik spot yang di desanya untuk mendapatkan sinyal yang kuat dan stabil. “Sebenarnya ada dua titik spot yang lumayan kuat sinyalnya di sini (Ngasem) sama daerah diatas balkondes itu,” terangnya.

Tinggalkan Balasan