Sungai Tercemar Limbah, Pabrik Tekstil di Temanggung Diberi Sanksi

TEMANGGUNG, SM Network – Sungai Elo yang mengalir di dua Kabupaten di Jawa Tengah, yakni Temanggung dan Magelang tercemar limbah pabrik tesktil PT Sumber Makmur Anugrah (SMA). Pencemaran dikeluhkan terutama oleh warga Desa Soropadan, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung. Aduan masyarakat pun direspon cepat oleh Pemkab Temanggung dan Pemprov Jawa Tengah.

Bupati Muhammad Al Khadziq bersama Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto, langsung melakukan pengecekkan di aliran sungai. Dua pejabat ini melakukan kroscek antara aduan warga dengan hasil uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Temanggung.

“Hasil pengecekkan di lapangan betul perusahaan ini membuang limbah ke sungai dan setelah dilakukan pengujian di laboratorium memang melebihi baku mutu yang dibolehkan oleh peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, kami beri surat peringatan, surat administratif berupa paksaan agar perusahaan membangun instalasi pegelolaan limbah (IPAL). Dalam waktu 180 hari harus diwujudkan, Kalau tidak maka selanjutnya kita berikan sanksi berikutnya secara bertingkat,”ujarnya Sabtu (12/9).

Direktur PT Sumber Makmur Anugerah (SMA) Wibowo saat didatangi rombongan bupati meminta maaf dan mengaku IPAL sedang dalam proses pembuatan atau mempersiapkan instalasi pengelolaan limbah. Dari perkiraannya seharusnya pertengahan September sudah selesai namun karena terkena dampak pandemi korona maka pekerjaan menjadi molor.

“Seharusnya semester ini September-Oktober sudah selesai instalasi pengelolaan limbahnya. Tapi karena ada pandemi jadi terbengkalai. Hanya saja pelaksanaannya sampai saat ini progresnya sedang dibangun,”katanya.

Bupati pun kembali menegaskan setelah diuji di laboratorium, limbah yang dibuang oleh PT SMA di Sungai Elo melebihi baku mutu yang telah ditentukan sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.

Maka Pemerintah Kabupaten Temanggung dalam Keputusan Bupati Nomor 660.1/400 tahun 2020 tertanggal 11 September 2020 memberi sanksi administratif dalam rangka perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup berupa paksaan Pemkab Temanggung kepada PT SMA untuk segera melakukan tindakan perbaikan kualitas pengelolaan limbahnya.

“Pemerintah juga akan mengevaluasi kembali ijin-ijin yang sudah ada terkait dengan saluran pembuangan limbah yang melewati tanah bengkok desa dan melewati saluran irigasi”,katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto mengatakan, kewenangan pengawasan sesuai dengan UU No 23 tahun 2014 adalah di Pemerintah Kabupaten. Akan tetapi karena aduan ini sudah sampai ke Gubernur Ganjar dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi, maka pihaknya juga akan melakukan penyelesaian tentang aduan yang dampaknya lintas Kabupaten dan kota (Temanggung dan Magelang).

“Ini menjadi wilayah bupati, tapi karena pengaduannya sampai ke gubernur maka sesuai ketentuan yang berlaku, bahwa kami juga mempunyai kewenangan untuk penyelesaian pengaduan yang dampaknya lintas kabupaten kota. Kami akan bersama-sama bapak bupati melakukan pengawasan dan tindakan-tindakan sesuai kewenangan kami. Kalau masih seperti ini akan kami lakukan teguran khusus dan kami tetap koordinasi dengan bupati dan kepala DLH,”katanya.

Analis Laboratorium DLH Kabupaten Temanggung Akbar Fauzi mengatakan, berdasarkan analisis parameter lapangan “total dissolved solid (TDS)” atau total padatan terlarut dalam air di Sungai Elo Desa Soropadan sudah melebihi baku mutu. Sampel atau contoh air di sungai tersebut, hasil paramater sementara TDS 7,377 ppt. Dari hasil uji parameter tersebut, maka kemungkinan besar berpotensi menyebabkan kematian ikan dan mengganggu ekosistem yang ada di Sungai Elo, karena nilai TDS sudah melebihi baku mutu yang telah ditetapkan.

Perwakilan Komunitas Hulu Kali Elo Desa Soropadan, Nauval Imam Fahrudin mengatakan, pencemaran Sungai Elo mengakibatkan air keruh dan para pencari ikan sulit mendapatkan ikan. Selain itu, jika air seungai terkena kulit menjadi gatal-gatal.

“Kalau siang debit air pembuangan limbah sedikit tapi kalau malam banyak. Air limbahnya sangat keruh sekali, kadang juga berwarna merah, hijau dan kadang hitam pekat sekali, warna airnya limbahnya berubah-ubah. Dampak dari pembuangan air limbah ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Desa Soropadan saja, namun juga dirasakan oleh masyarakat di Desa Donorejo dan Secang, Kabupaten Magelang,ā€¯katanya.

Tinggalkan Balasan