SM/Dananjoyo - Petani memanen padi di Purwomartani, Kalasan, Sleman, D.I Yogyakarta, Minggu (5/4). Pemda Sleman memastikan ketersediaan beras di wilayah Sleman cukup, bahkan untuk ketersediaan hingga enam bulan ke depan tercatat dengan produktivitas 57,25 kuintal per hektare dalam luas 7.576 hektare, dapat menambah ketersediaan beras sejumlah 27.766 ton. Sementara itu Perum Bulog mengklaim punya stok beras yang tersimpan di gudangnya sebanyak 1,4 juta ton dari kapasitas gudang yang mencapai 3,8 juta ton. Stok beras akan terus bertambah dengan masuknya musim panen raya dalam waktu dekat sehingga pasokan beras tetap tersedia. Panen raya mulai terjadi Maret hingga April 2020.

SLEMAN, SM Network – Ketersediaan beras di Kabupaten Sleman dipastikan mencukupi hingga enam bulan ke depan. Dengan angka produktivitas tanaman padi 57,25 kuintal per hektar dalam luasan 7.576 hektar, dapat menambah ketersediaan beras sejumlah 27.766 ton.

“Jumlah itu dipastikan cukup untuk ketersediaan hingga 6 bulan ke depan,” kata Bupati Sleman Sri Purnomo, Minggu (5/4).

Dia menjelaskan, produktivitas padi di Sleman ditunjang oleh sistem panen menggunakan mesin padi (combine harvester). Teknologi itu dapat menekan biaya yang biasa dikeluarkan jika melakukan panen padi secara manual.Karena stoknya mencukupi, dia mengimbau kepada warga Sleman agar tidak menimbun atau membeli beras secara berlebihan. “Jangan sampai terjadi panic buying karena ketersediaan pangan kita mencukupi,” ujarnya.

Disamping beras, stok pangan jenis lainnya juga diklaim mencukupi. Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman mencatat, hingga akhir April mendatang, beberapa komoditas masih mengalami surplus.

Untuk komoditas beras, angka surplus sebanyak 39.377 ton, cabai 222 ton, daging ayam 5.576 ton, telur 494 ton, dan ikan 4.916 ton. Kendati stoknya cukup, harga sejumlah bahan pokok mengalami kenaikan diantaranya gula pasir, cabe rawit, bawang merah, dan kedelai impor.

Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih menjelaskan, kenaikan harga  bahan pokok itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Semisal lonjakan harga gula pasir disebabkan penurunan stok sehingga harganya kini menembus Rp 17.000/kg. 

“Cabe rawit merah, harganya Rp 45.000/kg dikarenakan  kuantitas turun akibat cuaca yang masih tidak menentu. Bawang naik menjadi Rp 33.500/kg juga karena menurunnya hasil panen,” kata Mae.

Sedangkan kenaikan harga kedelai impor hingga nominal Rp 9.000/kg, dipicu peningkatan nilai mata uang dolar sebagai imbas dari wabah korona.


Amelia Hapsari

1 KOMENTAR