Sleman Siapkan Opsi KBM Tatap Muka

SLEMAN, SM Network – Kegiatan belajar mengajar (KBM) di Sleman pada awal tahun ajaran baru 2020/2021 ini masih dilaksanakan dengan sistem online atau jarak jauh. Pasalnya sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri, pembelajaran tatap muka hanya diperbolehkan di wilayah zona hijau.

Sedangkan Kabupaten Sleman, sampai saat ini masih berada dalam zona kuning. “Kita terus evaluasi sampai masa tanggap darurat selesai tanggal 31 Juli mendatang. Tapi prinsipnya, kami siap jika akan melaksanakan KBM tatap muka meskipun dengan sistem on off,” kata Bupati Sleman Sri Purnomo saat ditemui, Selasa (14/7).

Adapun sistem on off yang dimaksud yakni sebagian siswa melaksanakan KBM tatap muka, dan lainnya mengikuti daring secara bergantian. Sri menilai, perkembangan kasus Covid-19 di wilayahnya tergolong cukup landai. Kecamatan yang menjadi zona kuning juga terus bertambah.

Data per 4 Juli, terdapat empat kecamatan yang masih dalam kategori zona oranye yakni Sleman, Godean, Depok, dan Gamping. Perkembangan terakhir per 11 Juli, hanya tersisa dua kecamatan yaitu Gamping dan Depok. Sedangkan 14 kecamatan sudah dinyatakan berstatus kuning, dan satu wilayah yakni Kecamatan Cangkringan tetap bertahan di zona hijau.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Arif Haryono mengatakan, tahun ajaran baru dimulai pada Senin (13/7) lalu. Tiga hari awal adalah masa pengenalan lingkungan sekolah. Lantaran pembelajaran masih berlangsung secara online, pihak sekolah diminta untuk membuat materi kemudian disampaikan kepada wali siswa yang baru.

Materinya berisi profil sekolah meliputi lingkungan, ruang kelas, guru, dan tenaga kependidikan. Selain itu disampaikan materi terkait muatan kurikulum intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. “Meski saat ini belum memungkinkan untuk tatap muka tapi tetap dikenalkan agar ketika masuk, bisa langsung mengikuti pelajaran,” ujarnya.

Supaya pembelajaran berjalan efektif, Disdik mengambil kebijakan untuk memilih kompetensi dasar yang esensial, dan ringkasan materi. Jadi, siswa tidak hanya sekedar diberi tugas. Jadwal KBM juga diatur seperti saat tatap muka di kelas namun jamnya dipadatkan.
“Jadwal hariannya tidak harus penuh sekian jam pelajaran tapi dipadatkan, dan sehari tidak lebih dari tiga mata pelajaran. Materi juga dibuat ringkasan untuk memudahkan siswa dalam belajar,” kata Arif.

Apabila nantinya diterapkan pembelajaran tatap muka, lanjut dia, akan ada desain tersendiri mengingat ruang kelas tidak bisa ditempati siswa secara penuh, maksimal hanya 50 persen. Ke depan juga akan standar operasional prosedur semisal ketersediaan sarpras wastafel yang memenuhi rasio jumlah siswa, pengawasan guru terhadap anak didik agar tidak berkerumun.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan