Sleman Sediakan Dua Shelter Pemudik

SLEMAN, SM Network – Pandemi Covid-19 memunculkan rentetan persoalan sosial. Salah satunya adalah kehadiran pemudik yang ditolak oleh warga.Mengantisipasi hal itu, pemerintah Sleman telah menyiapkan dua shelter atau hunian sementara.

Fasilitas ini tidak hanya diperuntukkan pendatang, namun juga pasien dalam pengawasan (PDP) yang sudah sembuh, dan petugas medis yang tidak bisa pulang ke rumah.Dua shelter itu yakni Asrama Haji di ringroad utara, dan Wisma Sembada di Kaliurang. Kabag Humas dan Protokol Setda Sleman Shavitri Nurmala Dewi menjelaskan, Wisma Sembada dikhususkan pemudik yang masuk kategori orang tanpa gejala. 

“Untuk pemudik ODP yang sedang menunggu hasil tes, ditempatkan di Asrama Haji bersama PDP yang sudah sembuh dan petugas kesehatan,” terangnya, kemarin. Sebelum masuk ke shelter, pemudik harus terlebih dulu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Jika warga menolak pemudik kembali ke rumahnya, maka harus ada surat pernyataan dari RT/RW dan dukuh setempat serta direkomendasi oleh kepala desa atas sepengetahuan camat.Di dalam surat dijelaskan alasan pemudik tidak bisa melakukan karantina mandiri karena tidak punya rumah atau tidak ada ruang karantina mandiri.

Tidak boleh alasan karena warga takut menerima pemudik, karena treatment karantina diawasi oleh petugas medis. Sementara itu, bagi pemudik yang menggunakan moda transportasi udara diharuskan mengecek kondisi kesehatannya sejak berada di bandara. Kemudian secara mandiri menuju alamat tujuan atau rumah masing-masing dengan diawali melapor ke RT.

“Apabila tidak ada penolakan dari masyarakat, maka selesai. Tapi kalau ada penolakan, jika kondisinya sehat bisa langsung ke shelter Wisma Sembada. Namun apabila ada gejala ISPA, menujunya ke Asrama Haji,” terang Evi.

Pj Sekda Sleman Harda Kiswaya mengatakan, anggaran yang dialokasikan untuk kesiapan shelter Asrama Haji sekitar Rp 1 miliar. “Kalau Wisma Sembada kan punya kita (Pemkab), jadi tidak keluar biaya. Disana ada 45 kamar,” ujarnya. Dua tempat karantina itu sudah siap beroperasi. Namun khusus untuk Wisma Sembada, sifatnya hanya sementara.

Pemkab Sleman tengah menyiapkan shelter Balai Diklat Kemendagri yang berlokasi di Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan.Persiapan ini diperkirakan rampung dalam waktu 1-3 hari. “Jika Balai Diklat sudah siap, yang Wisma Sembada tidak jadi dipakai. Ruangannya lebih banyak, ada ratusan kamar,” kata Harda. 

Selain itu, faktor suhu udara juga menjadi pertimbangan. Pasalnya, Kaliurang merupakan daerah dataran tinggi yang suhunya cenderung dingin sehingga kurang mendukung untuk kesehatan. Diakuinya, Pemkab terpaksa menyiapkan Wisma Sembada untuk shelter karena waktu itu belum ada alternatif lokasi lain.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan