Skenario Penanganan Erupsi Merapi Disesuaikan Kondisi Pandemi

SLEMAN, SM Network – Pemda DIY telah menyusun rencana kontingensi erupsi Merapi yang skenarionya didasarkan pada rekomendasi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Untuk Kabupaten Sleman, skenario penanganan bencana letusan Merapi disiapkan di tujuh desa pada tiga kecamatan yaitu Turi, Cangkringan, dan Pakem.”Di dalam rekontingensi, komando terdepan adalah Sleman sedangkan pemerintah provinsi selaku supporting,” kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana, kemarin.

Di tengah situasi pandemi Covid-19 saat ini, rekontingensi Merapi juga mengalami penyesuaian. Hal ini berdampak pada kebutuhan pengungsi. Termasuk diantaranya proses evakuasi yang menerapkan protokol kesehatan dalam berbagai aspek mulai dari sarana transportasi, barak penampungan, sister village, sanitasi, dan logistik. Contohnya untuk sarana barak, di masa pandemi Covid-19, kapasitasnya dikurangi menjadi separo.

“Kami sudah menggelar simulasi dengan skenario mengikuti situasi pandemi. Status Waspada Merapi yang sudah berlangsung dua tahun terakhir, menjadi pijakan dalam pelaksanaan simulasi,” ujar Biwara. 

Pemkab Sleman juga sudah menyusun rekontingensi Merapi sampai dengan tingkat desa. Camat Cangkringan Suparmono menuturkan, ada 6 barak dan 1 gedung serbaguna yang disiapkan untuk menampung pengungsi jika sewaktu-waktu terjadi bencana erupsi. “Di wilayah kami, ada tiga desa yang masuk dalam peta rekontingensi yakni Glagaharjo, Kepuharjo, dan Umbulharjo.

Sudah disiapkan enam barak yang masing-masing berkapasitas kurang lebih 200 orang, ditambah gedung serbaguna yang bisa menampung sekitar 100 orang,” beber Pram.Selain fasilitas barak, telah dibuat pula sister school yakni kerjasama antara sekolah yang terdampak langsung dengan sekolah penyangga.Diantaranya SD Bronggang untuk SD Srunen, SD Kejambon untuk SD Glagaharjo, SMKN 1 untuk SMA 1 Cangkringan, dan SMPN 1 untuk SMPN 2 Cangkringan.



Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan