SLEMAN, SM Network – Pandangan Istiwartini menerawang lepas ke atas. Gurat kesedihan tersirat sangat dalam di rona wajah perempuan paro baya itu. Istiwartini adalah ibu dari Yasinta Bunga Maharani, siswi SMPN 1 Turi Sleman yang hingga Sabtu (22/2) pagi belum diketahui nasibnya.

Perlahan, Isti menceritakan kisah saat dia melepas putri semata wayangnya berangkat kegiatan Pramuka, Jumat (21/2) siang. Perempuan 52 tahun itu menuturkan, anak gadisnya sempat pulang ke rumah selepas waktu solat Jumat untuk mengganti sepatu.
“Dia pamit katanya mau ada kegiatan susur sungai,” ucap warga Dusun Dadapan, Desa Donokerto, Kecamatan Turi ini.

Bunga, yang baru saja merayakan ulang tahun ke-13 pada 11 Februari lalu, terlihat kurang bersemangat saat hendak mengikuti kegiatan itu. Dia bahkan menolak ketika ditawari ibunya makan.”Waktu mau berangkat, saya suruh makan dulu tapi tidak mau terus akhirnya suapi. Makan dulu, nanti capek, lapar,” kata Isti mengenang percakapan terakhirnya dengan sang putri.

Isti sempat pula meminta kepada Bunga agar tidak berangkat, mengingat putrinya tidak bisa berenang. Namun Bunga menjawab takut dimarahi oleh kakak kelasnya.

Usai menyuapi anak kesayangannya, Isti kemudian mengantarnya ke sekolah. Rombongan siswa SMPN 1 Turi lantas menuju lokasi susur sungai dengan berjalan kaki. Sementara Isti kembali ke aktivitasnya mencari rumput untuk pakan ternak di embung Kaliaji.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB. Sempat terbersit pertanyaan di benaknya, kenapa pihak sekolah mengadakan kegiatan susur sungai padahal kondisi di atas sedang hujan lebat. Namun dia tidak ingin menyimpan firasat buruk apapun.

Menjelang pukul 15.30 WIB, sebagaimana rutinitasnya di hari Jumat sore, Isti beranjak untuk menjemput Bunga. Namun hari itu rupanya tidak biasa. Kakak kelas Bunga datang menyampaikan sebuah kabar. Kabar yang akan mengubah garis hidup putri tunggalnya untuk selama-lamanya.

“Kakak kelasnya bilang anak-anak kebawa arus sungai,” tutur Isti dengan terbata.

Seketika, dia memacu motornya ke Dusun Dukuh, lokasi tempat Bunga dan teman-temannya melakukan outbond. Namun hasilnya nihil. Dengan perasaan tak menentu, Isti mencari keberadaan buah hatinya di Puskesmas Turi dan klinik pratama SWA. Tapi jejak Bunga tetap tidak ditemukan.

Isti pun pulang ke rumah dan meminta tolong kepada seluruh anggota keluarganya untuk ikut mencari Bunga. Dia sendiri memilih tidak beranjak ke peraduan. Semalam suntuk hingga berganti hari, dia menunggu di posko SMPN 1 Turi. Sedangkan suaminya, Suraji (60) berjibaku mencari putrinya.

Saat Suara Merdeka menemuinya, Sabtu (22/2) pagi, tampak sejumlah kerabat mendampingi Isti yang tengah duduk di bangku depan ruang kepala sekolah. Air matanya tidak berhenti mengalir. Sesekali disekanya lelehan air mata itu dengan kerudung ungu yang ia kenakan.

Masih terpatri jelas dalam ingatan Isti ketika putrinya berpamitan dengan memakai seragam pramuka. Dia kini sudah sampai di titik ikhlas. Harapannya hanya sang putri bisa ditemukan apapun keadaannya. Baik masih hidup atau telah tiada.


(Amelia Hapsari/CN19/SM Network)