Siswa Hanyut : Manajemen Sekolah Masih Dinomorduakan

SLEMAN, SM Network – Insiden susur Sungai Sempor yang menewaskan 10 siswa SMP Negeri 1 Turi Sleman menyisakan kepiluan dan rasa empati. Kejadian tersebut sejatinya bisa dihindarkan jika manajemen sekolah tidak diabaikan.

Seorang pengamat dunia pendidikan, Dr Nurkholis MM tak memungkiri sampai saat ini manajemen sekolah menjadi hal yang kurang diperhatikan dan tak jarang dinomerduakan.

“Padahal manajemen ini sangat penting, karena itu kami punya komitmen untuk memaksimalkan sisi ini,” kata dia saat penutupan kegiatan pelatihan praktik Modul I dan II Manajemen Sekolah dan Budaya Baca di Hotel Grand Keisha, Sleman, Senin (2/3).

Apalagi, ungkapnya, diketahui kemudian kegiatan susur sungai yang diinisiasi pembina Pramuka yang kemudian menjadi tersangka tersebut tak diketahui sang kepala sekolah dengan dalih sang kepala sekolah baru 1,5 bulan menjabat.

Koordinasi yang tak baik tersebut sekilas menunjukkan tidak adanya manajemen sekolah yang baik. Efeknya mis-koordinasi antara kepala sekolah dengan pengampu kepramukaan membuat munculnya jatuhnya korban jiwa.

“Saya kira kejadian nahas tadi tak akan terjadi bila ada manajemen sekolah yang baik. Terciptanya komunikasi antara kepala sekolah, guru, siswa hingga para orangtua dan masyarakat menjadi hal paling penting untuk diwujudkan agar kedepan tak lagi terjadi hal memilukan itu,” tutur dia.

Maka dari itu, pria yang juga perwakilan dari Tanoto Foundation untuk wilayah Jateng-DIY itu berharap para peserta mulai dari kepala sekolah, guru, dan perwakilan komite sekolah yang hadir dalam pelatihan manajemen berbasis sekolah (MBS) itu bisa betul-betul memahami sekaligus mengaplikasikan dengan tepat mengenai pengelolaan sekolah

“Ada beberapa kiat yang dibagikan dalam pelatihan selama 3 hari terakhir ini. Seperti cara mewujudkan sekolah yang otonom, partisipatif, transparan serta akuntabel. Di sini kami juga bahas bagaimana seharusnya peran kepala sekolah, positioning-nya seperti apa untuk memastikan manajemen berjalan baik. Mungkin kemarin kejadian di Turi bisa jadi pelajaran berharga yang intinya jangan sampai terjadi lagi,” tegas dia.

Pada pelatihan yang juga menggandeng Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Dinas Pendidikan Sleman in pada hari terakhir kemarin, para kepala sekolah diajak berpraktik langsung ke salah satu sekolah untuk menyaksikan dan mengecek memastikan manajemen berjalan atau tidak.

“Sebenarnya paling penting itu praktik dan nantinya dua tahun kedepan mereka akan didampingi untuk memastikan program manajemen sekolah berjalan dengan baik. Dosen-dosen dari UNY sebagai fasilitator akan mendampingi,” tandas dia.


Gading Persada

Tinggalkan Balasan