Sidak Pangan Jelang Libur Nataru

JOGJAKARTA, SM Network – Pengawasan pangan jelang Natal tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 (nataru) diintensifkan oleh Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Yogyakarta. Pengawasan tersebut sudah berlangsung sejak 23 November hingga 8 Januari 2021.

Hal tersebut disampaikan Kepala BBPOM Yogyakarta, Dra Dewi Prawitasari, Apt MKes disela melakukan sidak di sebuah supermarket di Sleman, DIY, Selasa (15/12).

Ia mengungkapkan kegiatan ini merupakan salah satu pengawasan post-market yang dilakukan BBPOM untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya produk pangan yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK).

“Intensifikasi pengawasan pangan ini rutin dilakukan guna mengantisipasi beredarnya produk yang tidak memenuhi syarat,” ungkapnya.

Menurutnya pengawasan pangan olahan kemasan berfokus pada pangan Tanpa lzin Edar (TlE)/ilegal, pangan kadaluwarsa, dan pangan rusak. Serta pangan yang berpotensi mengandung bahan berbahaya.

Ia menambahkan, permintaan produk pangan yang meningkat umumnya seperti bahan pokok kebutuhan sehari-hari, yakni air minum dalam kemasan, pangan sajian hari raya, seperti aneka jenis minuman, makanan ringan, permen, dan sebagainya.

“Situasi ini seringkali digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan pangan yang tidak aman dan/atau tidak layak dikonsumsi, antara lain pangan Tanpa lzin Edar (TIE) atau ilegal, pangan kadaluwarsa, pangan rusak (penyok, kaleng berkarat, rusak, dan bolong/bocor),” urainya.

Intensifikasi pengawasan pangan menjelang Natal tahun 2020 dan Tahun Baru 2021 yang dilakukan BBPOM di Yogyakarta bekerja sama dengan lintas sektor terkait, telah memeriksa 108 sarana distribusi pangan.

Hasil pengawasan sejak 24 November sampai dengan 11 Desember 2020 menghasilkan temuan sarana distribusi atau penjual produk yang tidak memenuhi kriteria di Kota Yogyakarta sebanyak 1 sarana, Sleman 9 sarana, Bantul 4 sarana, Kulon Progo 5 sarana, dan Gunung Kidul 5 sarana.

Sarana yang diperiksa terdiri atas distributor, pasar modern (hypermart, supermarket, swalayan), toko, pasar tradisional, pembuat/penjual parsel.

Dari sarana distribusi pangan yang diperiksa, ditemukan 85 item (1.327 pcs) produk pangan TMK yang terdiri atas 22,91 persen pangan kadaluwarsa, 74,76 persen pangan ilegal, dan 2,34 persen pangan rusak.

“Nilai ekonomis temuan tersebut sebesar Rp4.030.750. Temuan jenis produk pangan tanpa ijin edar terbanyak adalah bahan tambahan pangan, seperti pewarna, vanilli, baking powder, essence, dan ovalet. Seluruh produk pangan yang tidak memenuhi ketentuan telah diturunkan dari rak pajang/display, diamankan setempat, diperintahkan untuk tidak diedarkan kemudian dilakukan pemusnahan,” pungkas Dewi.

Tinggalkan Balasan