Mualimin Rutin Salat Sendirian di Lapangan Sejak Corona Mewabah

SEORANG pria asal Demak, Jawa Tengah mencuri perhatian karena kerap berdoa sendirian di lapangan Pelita Desa Tridonorejo, Kecamatan Bonang, Demak. Pria itu bernama Mualimin (53) yang rutin bermunajat kepada Allah sekitar pukul 09.00-10.00 WIB. Mualimin tampak memarkirkan motornya di pinggir lapangan. Dia terlihat memakai peci hitam dan membawa sajadah serta buku Yasin.

Cuaca terik tak mengurangi kekhusyukannya salat. Riuh anak-anak bermain di lapangan juga tak membuat Mualimin terganggu menjalankan salat dan membaca buku Yasin. Mualimin mengaku berdoa memohon kepada Yang Kuasa agar wabah virus Corona atau COVID-19 segera hilang. Warga RT 2/RW 2 Desa Tridonorejo itu mengatakan biasa salat Dhuha, Istikharah, salat tolak bala, serta membawa Yasin dan Tahlil.

“Kita bersujud, minta kepada Allah, intropeksi kesalahan kita. Mendoakan, dosa teman, keluarga, seluruh Indonesia, semoga penyakit dan wabah ini segera diangkat dan hilang. Sehingga masyarakat tenang dan dapat stabil lagi,” kata Mualimin usai berdoa di tengah Lapangan Pelita Desa Tridonorejo, Kecamatan, Bonang, Demak, Jumat (28/8/2020).

“Pokoknya saya menuruti hati. Tujuannya ya salat Dhuha, salat Istikharah, salat tolak bala, khususnya wabah Corona dan membaca Yasin, tahlil,” sambungnya. Dirinya menyebut, keinginan berdoa tersebut berasal dari inisiatif pribadinya. Dia mengaku tak menghiraukan penilaian masyarakat terhadap kegiatan salat yang dilakukannya.

“Saya itu orang tidak punya. Masalah urusan dunia saya tinggal, yang penting saya berjuang. Urusan diterima atau tidak itu lain. Yang penting saya sujud kepada Allah, apalagi ada COVID-19 seperti ini,” tutur Mualimin yang juga menjadi penjaga berstatus honorer di Kantor Kecamatan Bonang selama 14 tahun itu.

“Saya orang awam, orang kecil. Saya salat seperti ini hampir lima bulan, kalau ada yang suka atau tidak suka ya silakan. Jika ada yang bilang saya sesat, ya silakan terserah,” tutur Mualimin.

Salat di lapangan itu merupakan lakunya untuk memohon kepada Allah. Dia berharap banyak warga yang turut berdoa memohon agar wabah COVID-19 ini segera hilang.

Mualimin mengatakan salat memang tak harus dilaksanakan di lapangan. Namun laku ini dia lakukan sebagai bentuk permohonan kepada Yang Kuasa. Dia menyebut wabah penyakit juga ada di Al-Qur’an dan harus dihadapi dengan pasrah.

“Saya itu niat menghadap kepada Allah. Allah ta’ala sedang memberikan ujian seperti ini seperti halnya zaman nabi dulu. Beruntunglah orang yang ingat Allah, dan celakanya orang yang tidak ingat Allah. Ini kan sebagai pengingat bagi manusia,” tuturnya.

“Harapan saya ayo sama-sama berdoa kepada Allah. Semua tindakan itu harus didasari dari kesusahan. Kesusahan ya seperti ini. Salat ya bisa saja di masjid, tapi kita ini menghadapi wabah ya harus seperti ini, berani kepanasan, berani susah. Pertama kesehatan, kedua sekalian berdoa,” tutur pria yang juga menjadi juru kunci makam tokoh setempat Mbah Hasan Bakem.

Diwawancara terpisah, perangkat Desa Tridonorejo Sutadi menyebut Mualimin merupakan warganya. Menurutnya, sosok Mualimin merupakan orang yang baik.

“Pak Mualimin merupakan warga Tridonorejo, pernah menjabat sebagai RT. Kesehariannya baik dengan lingkungan dan tak pernah ada masalah,” kata Sutadi saat ditemui di Balai Desa Tridonorejo

Tinggalkan Balasan