SM/dok - BUKU PANDEMI: Diiringi iringan musik, Wicahyanti Rejeki tampil membacakan karyanya saat peluncuran tiga buku bertema pandemi yang disiarkan secara daring, beberapa waktu lalu.

MAGELANG, SM Network – Setahun masa pandemi Covid-19 telah menjadi inspirasi lahirnya tiga buku sekaligus bertemakan pandemi. Puluhan penulis mengisi lembar demi lembar buku ini hingga kemudian secara resmi diterbitkan oleh TriBEE, sebuah penerbitan indie di Magelang.

Mengingat masih dalam masa pandemi, peluncuran tiga buku istimewa ini pun dilakukan secara terbatas dan daring, Rabu (10/3) lalu. Ketiga buku ini adalah “Menembus Batas”, “Selurus Jalan Kembali”, dan “Pupus dan Mupus”. 

Wicahyanti Rejeki dari pihak Penerbit TriBEE mengatakan, latar belakang penerbitan buku ini adalah agar proses menulis kreatif tidak terhenti di masa pandemi. Juga menjadikan ketiga buku ini sebagai “warisan” dan “dokumentasi” atas peristiwa yang kita alami saat ini. 

“Setahun pandemi telah membersamai langkah kita. Mempengaruhi laku kehidupan yang dijalani sehari-hari. Hari ini kita luncurkan buah karya penulis-penulis hebat yang merekam warna-warni kehidupan di masa pandemi,” ujarnya.

Perempuan yang juga penulis dan penyair itu menuturkan, buku pertama, “Menembus Batas” ditulis oleh 14 siswa SD, SMP, dan SMA di Kota dan Kabupaten Magelang. Antara lain Audrey Tiza Talentcia, Furi Aulia Hanum, Gisela Amadea Prayumaswita, Hanna Qurrota Aini, Intan Fatma Nuraini, Josephine Phoebe Oei, Levina Aurellia Hakim, Lili Pratiwi, Muhammad Zia Alby Wafaq, M. Nabil Farela, Nabila Sulcha, Valent Briliantino Widysetya, Vania Azalya Putri Arvianto, dan Yulianita Lovelyna Princessa. 

Lalu buku kedua, “Selurus Jalan Kembali” ditulis oleh 10 guru di Kota dan Kabupaten Magelang. Antara lain Afrizal Hani Arifin, Brian Leon Karlos, Ceria Wijaya Putri, Eri Ibad, Ito Gunawan, Nok Mujiati, Priskila Cahyatri, Rian Ika Maryani, Siti Marwah Nuraeni, dan Supriyanto. 

Kemudian buku ketiga, “Pupus dan Mupus” memuat artikel dari 19 penulis dari Aceh sampai Papua, juga dari Hong Kong, Jerman, dan Inggris. Sembilan belas orang penulis di buku ini berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka berstatus sebagai mahasiswa (Aditya Yoga Prayudhi dan Nisa Salsabila), ASN (Ayu Basuki dan Suyadi San), guru (Dorra Paramita Kusuma Wardani, Iin Meyer, Nurul Ludfia Rochmah, dan Wakhida Oktobiana).

Penulis lain dari kalangan dosen Ida Nur’aeni dan Golan Hasan), perawat (Eka Harrage dan Hotma Taruli Purba), dokter (IGB Reno Ranuh), karyawan swasta (Ursula Viena Murti), wartawan (Edhie Prayitno Ige dan M. Hari Atmoko), pekerja migran (Seneng Utami), sukarelawan (Isri Suhara), dan  penulis (Wicahyanti Rejeki).

“Latar belakang yang berbeda membuat tulisan di buku ini memiliki banyak sudut pandang dalam menghadapi pandemi. Menariknya, tidak semua penulis di buku ini terbiasa menulis. Namun, dorongan kuat untuk saling berbagi pengalaman kepada pembaca, membuat mereka lancar menuangkan gagasan-gagasannya,” katanya.

Wicahyanti mengutarakan, peluncuran 3 buku ini diisi gelar wicara dengan narasumber dari perwakilan penulis, yaitu dr IGB Reno Ranuh, Hari Atmoko,  Furi Aulia Hanum, dan Brian Leon Karlos. Anissa Andrie seorang penulis juga diundang untuk memberikan ulasan atas buku-buku tersebut. Acara dimoderatori oleh Danu Sang Bintang.

Dengan latar Gunung Sumbing dari rooftop kediaman dr Reno Ranuh, ditampilkan pula musik dari Munier Syalala, Yanuar Sastra, Pieu Kamprettu, Danu Sang Bintang, dan dr Reno Ranuh serta pembacaaan cerpen (Brian Leon Karlos dan dan  Furi Aulia Hanum).

Selain kemasan tersebut, juga ditampilkan kiriman testimoni dari penulis di Buku Pupus dan Mupus. Ada pula pembacaan kutipan cerpen yang dilakukan dari rumah, yakni Gisela Amadea Prayumaswita, Hanna Qurrota Aini, Lili Pratiwi, Muhammad Zia Alby Wafaq, Nabila Sulcha, dan Yulianita Lovelyna Princessa, Afrizal Hani Arifin, Eri Ibad, dan Supriyanto.

Dalam kesempatan itu, dr Reno mengaku, kebiasaannya melahap buku-buku kedokteran sedikit banyak memberinya bekal untuk menulis meskipun ia tidak terbiasa menulis. “Saya berterima kasih sekali sudah diprovokatori untuk menulis. Lain waktu jika momennya tepat, why not?” ungkap dokter yang terbiasa mengoperasi tulang ini.