Sepi Manggung, Pemusik Haries Banting Stir Racik Jamu

MAGELANG, SM Network – Dampak pandemi Covid-19 menghantam begitu keras bagi dunia hiburan. Salah satunya panggung musik yang bisa dibilang berhenti total, mengingat sama sekali tidak ada pekerjaan bagi musisi yang biasanya kerap manggung.

Seperti dialami Haries Saprila (36), musisi asal Magelang yang sudah hampir dua bulan tidak naik panggung. Biasanya, ia kerap mengisi panggung hiburan baik acara resepsi pernikahan (wedding) maupun dari kafe ke kafe. Alhasil, bapak dua anak ini harus banting stir agar dapur tetap mengebul. Kalau sebelum Covid-19 sehari-hari ia memetik gitar bass, kali ini berurusan dengan kunyit, salah satu rempah-rempah khas nusantara.

Jamu, itulah yang sekarang ini ia geluti. Memang jauh berbeda dari profesinya sebagai pemusik, anak band yang kerap manggung mengisi acara-acara. Dari musik, ia mampu bertahan hidup. Namun sayang, setelah terjadi pandemi, seketika pendapatannya dari musik hilang. “Sejak pertengahan Maret job musik saya berhenti total. Sampai sekarang belum juga ada, bahkan entah sampai kapan bisa manggung lagi,” ujarnya di rumahnya.

Suami dari Novi Karlinasari itu mengaku, menganggur sungguh tidak enak. Terlebih sudah memiliki istri dan dua anak yang masih balita harus dihidupi. Tabungan memang ada, tapi kalau hanya mengandalkan tabungan khawatir tidak akan bertahan lama. Jalan keluarnya, pria kelahiran Magelang, 15 April 1984 ini membuat jamu kunir asam untuk meningkatkan imunitas tubuh. Resep ini didapatkan dari tetangga yang jago membuat ramuan herbal. Tidak disangka, racikan jamu kunir asem buatannya pas.

“Awalnya diminum sendiri pakai gelas gitu. Karena saya juga terdampak pandemi, saya kepikiran, kenapa nggak bikin jamu saja dan dijual,” katanya yang belum lama membentuk grup band Disco Darurat.

Dorongan menjadi penjual jamu pun makin kuat. Ia meminta bantuan sang adik untuk memproduksi jamu, dan ikut memasarkan. Maka, jadilah jamu yang diberi label “Jamu Migunani” yang berarti jamu bermanfaat.

“Semula teman-teman nggak percaya, Haries kok bikin jamu. Tapi saya menawarkan ke teman-teman sambil bercanda, santai. Kemudian mereka mau mencoba. Ternyata mendapat feedback rasanya enak,” tuturnya.

Haries mengutarakan, ia membuat jamu kemasan 500 mililiter seharga Rp 12.500 dan kemasan 250 mililiter seharga Rp 7.500. Jamu buatannya diracik menggunakan bahan berkualitas, antara lain kunyit empu, gula aren asli, asam Jawa, dan jeruk nipis pilihan.

“Untuk proses penyaringan sampai enam kali, sehingga ampasnya tidak terlalu banyak,” jelasnya.

Sejak pertengahan April diproduksi, ribuan botol jamu racikan Haries ini terjual. Pemasaran sudah sampai luar kota, Jakarta, Purworejo dan sekitarnya. Juga merambah ke toko-toko dan instansi pemerintahan.

“Saya bikin dua varian rasa, yakni jamu kunir asem dan jamu rempah keraton. Namun, jamu kunir asem yang paling laris. Proses pembuatan jamu kunir asem memakan waktu selama 3 jam. Jamu ini bisa bertahan 3-4 hari bila tidak di kulkas, sedangkan di kulkas bisa sampai 6 hari,” ungkapnya.


Asef Amani

6 Komentar

  1. Like!! Great article post.Really thank you! Really Cool.

  2. Good one! Interesting article over here. It’s pretty worth enough for me.

  3. 199580 713787I visited plenty of web site but I believe this 1 contains something extra in it in it 146048

Tinggalkan Balasan