Selendang Ibunda Temani Henry Jovinski di Peristirahatan Terakhir

SLEMAN, SM Network – Kepergian Henry Jovinski (25), staf KPU Yahukimo, Papua yang meninggal akibat dianiaya orang tidak dikenal, menorehkan luka sangat mendalam bagi ibundanya, Vivin Monica. Saat mengantarkan putranya ke peristirahatan terakhir di TPU Gumuk Dusun Rewulu Wetan, Desa Sidokarto, Kecamatan Godean, Sleman, Kamis (13/8), Vivin tak kuasa menahan kesedihannya.

Perempuan 54 tahun itu terus menangis sambil terus memanggil nama putra sulungnya. Berkali-kali pula, Vivin mengucapkan kalimat sayang kepada Henry ketika tubuhnya yang terbujur kaku di dalam peti, perlahan dimasukkan ke liang lihat.

“Henry, Mama sayang kamu, Nak. Jangan tinggalkan Mama. Aku tidak bisa menjaga anakku,” isak Vivin.
Sang suami, Sugeng Kusharyanto terus memeluk tubuhnya. Vivin yang waktu itu mengenakan pakaian serba hitam terlihat pula meletakkan selendang yang dia pakai diatas peti jenazah Henry. Seolah ia ingin selalu berada di sisi putranya.
“Jangan takut sendiri ya, Nak. Nanti kita ketemu lagi,” ucapnya.

Henry adalah sosok yang dekat dengan ibundanya. Bahkan, sulung dari dua bersaudara itu sempat meminta ibunya datang berkunjung ke Papua untuk menikmati pemandangan alamnya yang indah. Selain mengajak ibundanya ke pulau tempatnya bertugas, masih ada lagi angan-angan Henry yang belum terwujud yakni mengkuliahkan adik perempuannya di ilmu perhotelan.

“Taliasih dari bapak ini akan kami gunakan untuk membiayai adiknya kelak di perhotelan agar Henry,” ungkap Vivin ketika menyambut kehadiran Ketua KPU RI Arief Budiman untuk bertakziah. Dia pun berharap anaknya menjadi korban yang terakhir. Khusus kepada Ketua KPU, dia menitip harapan untuk mewujudkan obsesi Henry yaitu tercipta Pemilu yang damai.

“Dia sering bilang ke saya, ingin ada perubahan sistem Pemilu yang lebih baik karena mengamati jalannya Pilpres lalu yang penuh carut-marut. Itu pula salah satu alasan dia mendaftar di KPU,” urai Vivin mengenang curhatan almarhum.

Henry sadar bahwa tantangan bertugas di Papua, besar. Namun sosok kelahiran 4 Juni 1995 itu merasa yakin bisa bergaul dengan penduduk setempat. Tapi nasib berkata lain. Henry yang baru satu tahun menjadi ASN sebagai analis sistem informasi, harus kehilangan nyawa di tempatnya bertugas. Keluarga pun hanya bisa berharap keadilan ditegakkan.


Amelia Hapsari

Tinggalkan Balasan