Selama Pandemi Covid-19, Perayaan Hari Jadi Purworejo Secara Sederhana

PURWOREJO, SM Network – Peringatan Hari Jadi ke-190 Kabupaten Purworejo Tahun 2021 terpaksa harus diramu menjadi kegiatan yang sederhana, tetapi tidak menghilangkan esensinya. Hal itu mengingat situasi kondisi pandemi Covid-19 masih terjadi.

“Namun kami sudah menyiapkan sedikitnya tiga even untuk mengisi hari jadi di tengah pandemi ini. Yakni ziarah ke makam para leluhur Purworejo, Pengetan Jumenengan, dan Parade Budaya Virtual,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Purworejo, Agung Wibowo AP, di Ruang Arahiwang Kompleks Setda Purworejo, kemarin.

Dijelaskan, ketiga makam yang diziarahi antara lain makam Raden Singowijoyo di Bragolan, makam RAA Tjokronegoro I di kompleks Makam Bulus, dan Cokronegoro II di kompleks makam Kayu Lawang di Kelurahan Mudal, Kecamatan Purworejo. Namun berbeda dari tahun sebelumnya yang biasanya jumlah rombongan cukup banyak, kali ini terbatas dilakukan Plh Bupati, Bagian Humas, dan Asisten Setda.

“Karena pandemi kegiatannya juga agak sedikit berbeda, kegiatan ziarah yang biasa tamu undangan berkumpul menjadi satu di Pendapa Kabupaten kemudian berangkat bareng ke makam, kali ini yang ikut keliling hanya Plh Bupati, Bagian Humas dan Asda III, OPD lain yang sudah di Bragolan tidak ke Kayu Lawang begitu sebaliknya. Rencana akan dilaksanakan Selasa Kliwon (23/2) sekitar pukul 08.30 lepas dari pendapat, prosesnya sama berdoa dan tabur bunga,” jelasnya.

Event berikutnya yakni malam peringatan jumenengan yang akan dihelat pada tanggal Sabtu (27/2) mulai pukul 19.00. Kegiatan untuk undangan tertutup, artinya tidak mengundang, masyarakat bisa menyaksikan melalui laman Youtube Romansa. Undangan juga dibatasi 50 orang untuk menjamin protokol kesehatan Covid-19 bisa berjalan maksimal.

“Jumenengan ini juga akan diisi pentas tari, durasinya acara sekitar 1 jam 20 menit, sehingga pukul 21.20 direncanakan sudah selesai,” ucapnya.

Sementara even ketiga yakni parade budaya, sebagai upaya menghidupkan dan melestarikan kesenian dan budaya Purworejo. Parade budaya ini juga sebagai bentuk perhatian Pemkab kepada para pelaku seni yang cukup terdampak pandemi Covid-19.

“Kami coba wadahi, yang pentas nanti perwakilan kelompok kesenian per kecamatan, banyak ada kuda kepang, dolalak, simpoling, dan juga ada empat grup kesenian lainnya yang akan mewakili beberapa genre, keroncong, hadroh dan pop kekinian. Kegiatan ini juga akan ditayangkan di laman youtube selama 4 hari dengan model taping,” katanya.

Sebagian juga sudah mulai melakukan pengambilan gambar, sambungnya, jadi tidak live, sedikitnya sudah ada sekitar 11 grup kesenian yang sudah tik gambar. Pengambilan gambar mulai pukul 08.00-12.00. Kegiatan tetap memperhatikan protokol kesehatan Covid-19.

“Sebelum pengambilan gambar disterilisasi dulu, sesi pengambilan pertama selesai desinfaksi kembali, kita kerjasama dengan dinkes, pengambilan gambar di Ganesha Convention Hall, atau Gedung Wanita A Yani Purworejo,” ucapnya.

Ditambahkan, untuk meminimalisir kontak fisik dan menjaga physical distancing, masing-masing grup kesenian diatur kedatangannya. Jika pengambilan gambar pukul 09.00 maka mereka datang 45 menit sebelum tampil.

“Semua juga mengenakan APD, penari menggunakan face shield. “Ini semua dilaksanakan yang kemungkinan juga akan diselaraskan dengan hari musik, Tribut WR Soepratman juga akan menampilkan lagu-lagu besar Ciptaan WR Soepratman,” katanya.

Terkait logo hari jadi, angka 190 menunjukkan angka tahun, sementara lingkaran merupakan simbol rantai semangat persatuan dan kesatuan seluruh warga Purworejo.

“Secara filosofi juga mempersatukan. Latar belakang gunungan merupakan simbol dari awal kehidupan atau harapan kehidupan, landscape siluet WR Soepratman, tugu gunungan dan sebagainya,” ucapnya.