SM/dok - SASTRA HIJAU: Sejumlah peserta mengikuti peluncuran buku Sastra Hijau dan Seminar Regional secara daring yang diadakan oleh FBS UNY bekerja sama dengan Faculty Sains Sosial dan Kemanusiaan Universitas Kebangsaan Malaysia.

JOGJAKARTA, SM Network – Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (FBS UNY) bersama Faculty Sains Sosial dan Kemanusiaan Universitas Kebangsaan Malaysia meluncurkan buku Sastra Hijau secara daring, Sabtu (27/2). Peluncuran dibarengkan pula dengan Seminar Regional “Sastra Hijau dalam Kajian Ekokritik dan Ekofeminis” dengan pembicara-pembicara yang kompeten di bidangnya.

Koordinator Program Studi Sastra Indonesia FBS UNY, Dr Else Liliani mengatakan, peluncuran buku dan seminar ini hasil kerja bareng juga dengan Yayasan Rayakultura Bogor dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat UNY. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengembangan keilmuan di bidang sastra yang kali ini bertema tentang sastra hijau.

“Tema ini sangat tepat seiring dengan merebaknya ketidakpedulian terhadap pelestarian lingkungan yang sesungguhnya sudah dituliskan dalam karya-karya sastra baik, dunia, nasional maupun daerah,” ujarnya.

Dia menuturkan, seminar ini sangat menarik, karena diikuti para akademisi, peneliti, penggiat Sastra Hijau dari Asia, khususnya Indonesia, Malaysia, China, dan sejumlah negara tetangga lainnya. Begitu pula peluncuran bukunya tak kalah menarik, karena menghadirkan pembicara-pembicara hebat.

“Peluncuran buku menghadirkan pembicara Prof Dr Madya Mashitoh Yacoob (Universitas Kebangsaan Malaysia), Prof Dr Wiyatmi MHum (FBS UNY), dan Dr Anwar Efendi MSi (FBS UNY). Lalu pembicara seminar oleh Prof Dr Novita Dewi (Universitas Sanata Dharma) dan Naning Pranoto MA (Sastrawan Penggiat Sastra Hijau dari Yayasan Rayakultura Bogor ),” katanya.

Else menyebutkan, buku Sastra Hijau merupakan hasil karya 22 dosen, peneliti, dan aktivis sastra hijau dari Indonesia dan Malaysia. Di dalamnya bercokol sejumlah nama hebat di bidang sastra, seperti Prof Dr Suminto A Sayuti, Prof Dr Wiyatmi, Prof Novita Sari Dewi, dan penulis hebat lainnya, yang menjadikan buku ini sangat penting untuk perkembangan sastra.

“Terbitnya buku ini wujud dari kerjasama penelitian dan publikasi UNY, UKM, dan berbagai universitas di Indonesia serta luar negeri, juga sejumlah institusi pemerintah maupun swasta seperti Yayasan Rayakultura. Harapan kami dengan kegiatan ini maka akan terjalin kerjasama yang erat serta silaturahmi akademik antara  Fakultas Bahasa dan Seni UNY dengan mitra-mitra kami,” jelasnya.

Sementara itu, Prof Dr Novita Dewi dalam paparannya mengutarakan, masalah sosial dapat diteropong lewat kajian sastra (dan budaya). Hal ini mengingat pembelajaran sastra, termasuk Sastra Hijau dapat berkontribusi kepada persoalan nyata dalam masyarakat.

“Sastra hijau sendiri masih langka secara kurikuler, sehingga lahirnya buku Sastra Hijau ini menjadi hal penting dalam keilmuan sastra dewasa ini.

“Perlu diketahui, hubungan sastra dan lingkungan saat ini mulai banyak dikaji. Lahirnya buku ini sangat penting juga, karena kajian teoritis dan praksia sastra hijau perlu didokumentasikan untuk memperkaya studi sastra,” terangnya.

Dalam webinar ini, Prof Novita mengutip isi novel Partikel karya Dewi “Dee” Lestari, yakni “Manusia berbagi 63% kesamaan gen dengan protozoa, 66% kesamaan gen dengan jagung, 75% dengan cacing. Dengan sesama kera-kera besar, perbedaan kita tidak lebih dari tiga persen. Kita berbagi 97% gen yang sama dengan orang utan. Namun, sisa tiga persen itu telah menjadikan pemusnah spesiesnya. Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja gen berbeda.

“Ini contoh novel yang di dalamnya memuat topik lingkungan. Saya kira ini penting untuk kita kaji dalam kaitannya sastra dan lingkungan,” imbuhnya.