Sebarkan Video Hoax, Driver Taksi Online Ini Ditangkap Polisi

SLEMAN, SM Network- Seorang driver taksi online, Uung Kamaludin (45) harus berurusan dengan polisi lantaran menyebarkan video hoax (bohong) melalui jejaring media sosial. Saat ini warga Kuningan, Jabar yang tinggal di Sleman itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“Pelaku berinisial UK ditangkap kemarin (2/2/2020) karena menyebarkan video hoax. Ini cukup meresahkan masyarakat, terpaksa kami proses supaya jadi pembelajaran yang bersangkutan dan yang lain, agar hoax itu tidak boleh dilakukan, ada aturan hukum yang mengaturnya,” tutur Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto saat jumpa pers, Selasa (4/2/2020).

Direktur Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda DIY Kombes Pol  Yoyon Toni Surya Putra menyebut modus yang dilakukan pelaku bermula dari sebuah video kecelakaan lalu lintas yang terjadi di daerah Muntilan, Kabupaten Magelang.

Oleh pelaku video itu kemudian di-upload-nya atau diunggah di grup WhatssApp driver taksi online. Celakanya, video berdurasi 30 detik tersebut oleh pelaku diberi kalimat Video Korban Klitih sehingga seakan-akan video itu menerangkan kejadian klitih sebenarnya.

“Sebenarnya pelaku sudah diingatkan sesama teman di grup WA (whatsapp) kalau jangan menyebarkan hoax tapi malah dijawab pelaku kalau video itu benar adanya. Penyebaran video itu dilakukan pada 30 Januari lalu,” ungkapnya.

Mengubah

Dari hasil pemeriksaan, lanjut Yoyon, pelaku yang sudah ditetapkan status tersangka dan dilakukan penahanan terhadapnya itu mengaku hanya iseng semata ketika mengedit dan menyebarkan video hoax itu ke grup WA.

“Ini hanya pengakuan tersangka saja. Ya terserah dia. Tapi kami menemukan bukti-bukti lain yang bisa menguatkan unsur pidana didalamnya. Seperti ada upaya tersangka menghilangkan barang bukti terbukti dengan dihapusnya video hoax itu yang sudah disebar pelaku ke jejaring medsos lainnya,” tutur dia.

Oleh polisi, tegas Yoyon, tersangka dijerat dengan pasal 14 ayat (2) UU Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana serta UU Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik.

“Untuk ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak Rp 1 miliar,” tegasnya.

Sebagaimana diketahui sejak beberapa hari terakhir di Jogja khususnya lewat jejaring sosial heboh dengan adanya video dua orang terkapar bersimbah darah. Video itu berjudul korban klitih dimana salah satu korban berpakaian driver ojol. Ternyata setelah ditelusuri video itu adalah rekaman kecelakaan lalu lintas yang terjadi di daerah Muntilan, Kabupaten Magelang.


Gading Persada

Tinggalkan Balasan