Sebagian Rumah Sakit di Sleman Siap Tangani Pasien dengan Gejala Covid-19

SLEMAN, SM Network- Sebanyak 10 rumah sakit (rumkit) pemerintah maupun swasta di Kabupaten Sleman siap menangani pasien-pasien yang terkait Covid-19. Rumkit itu merupakan bagian dari rumkit tambahan di DIY yang disiapkan untuk menangani pasien dalam pengawasan (PDP) korona.

“Total di DIY ada 22 rumkit tambahan untuk melengkapi empat rumah sakit utama dalam penanganan korona,” kata Kepala Bidang Kesejahteraan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman, dr Wisnu Murti Yani, Jumat (20/3).

Ditemui saat memantau penyemprotan cairan disinfektan sebelum digelarnya bimbingan teknis (bimtek) kepada Tim Teknis Lapangan (TTL) Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) 2020 secara e-voting di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pagi tadi, Wisnu menyebutkan ke-10 rumkit itu yaitu RS Hermina, RS JIH, RS Sakina Idaman, RSUD Sleman, RSUD Prambanan.

Dia menjelaskan, Sumber Daya Manusia (SDM) rumkit yang kemudian ditunjuk, diberi bimtek atau menyesuaikan kompetensi. Dua hari lalu, begitu ada penunjukkan ungkapnya, tim Dinkes datang ke 10 RS tadi, membuat acara bimtek tenggorok supaya SDM rumah sakit bisa mengambil sampel tenggorok.

Kemudian mengusahakan alat namanya VTM, untuk membawa yang diduga virus dari tenggorok itu ke media yang benar. Agar selanjutnya dibawa ke lembaga pemeriksanya.

“Jadi rumah sakit yang ditunjuk, bukan untuk memeriksa virusnya, tapi membantu menangani nya itu dan menangani sementara orang yang diduga dan harus tadi,” jelasnya.

Wisnu menambahkan, saat ini ruang isolasi yang dibutuhkan sudah tidak harus bertekanan negatif. Sehingga, 10 RS tadi dianggap siap. 

“Punya ruang isolasi dan ada exhaust fan, udara bisa dibawa lari ke luar, (ruang isolasi) itu bisa dipakai. Tetapi kalau yang sudah positif Covid-19 memang dianjurkan untuk tekanan negatif,” paparnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, untuk tenaga medis, dokter spesialis paru akan bertindak, bila pasien yang masuk mengalami distress sesak nafas yang amat sangat dan membutuhkan perawatan khusus paru. Untuk menerapkan teknis seperti ini, tenaga spesialis paru di 10 rumkit itu masih mencukupi.

“Tapi kalau semua PDP harus ketemu spesiali paru ya kami terlambat penanganannya. Makanya kami bimtek dokter-dokter yang ahli penyakit dalam cukup banyak dan mereka sudah cukup kompeten. Selain itu untuk dokter UGD dan lainnya, untuk kemampuan level 1 mereka juga sudah siap. Sebetulnya tidak harus (ditangani spesialis) paru semua,” tandasnya.


Gading Persada

Tinggalkan Balasan