Sebagian Pengungsi Merapi Pulang

JOGJAKARTA, SM Network – Sebagian warga pengungsi Merapi yang menghuni barak pengungsian di Balai Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, dilaporkan kembali ke kediamannya masing-masing di Kalitengah Lor.

Mereka kembali setelah mendengar informasi dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) tentang perubahan arah potensi bahaya erupsi Gunung Merapi dari tenggara menjadi ke sebelah selatan-barat daya, pada 16 Januari 2021 kemarin.

Hal tersebut disampaikan Lurah Glagaharjo, Suroto.

“Usai mendengar laporan dari BPPTKG mengenai perubahan arah potensi bahaya erupsi Merapi, ada puluhan pengungsi di Balai Desa Glagaharjo yang kembali ke kediamannya,” katanya.

SM/Dananjoyo – Sebagian masyaraskat yang masih menetap di pengungsian

Menurutnya dengan adanya informasi tersebut jumlah pengungsi sejak Minggu (17/1/2021) malam, mengalami banyak pengurangan.

“Tadi malam tinggal 187 pengungsi atau jiwa,” terang Suroto saat dijumpai di Balai Desa Glagaharjo, Senin (18/1/2021).

Ia menyebutkan, sebelumnya per 15 Januari 2021 malam, sebanyak 268 pengungsi masih menghuni barak di Balai Desa Glagaharjo.

“Yang naik (pulang) kebanyakan dari mereka berusia 50 ke bawah, usia produktif. Kalau kemarin itu kan hampir semua (warga) Kalitengah Lor (mengungsi),” sambung pria yang karib disapa Mbah Roto.

Terkait perubahan arah potensi bahaya erupsi Merapi, dikatakan Suroto, Pemerintah Kabupaten Sleman masih bakal membahasnya pada rapat, Selasa (19/1/2021) besok.

Sembari menanti arahan, pihaknya akan memberikan pengertian kepada warga pengungsi agar mau menetap lebih lama hingga ada kepastian.

Suroto tidak ingin peristiwa tahun 2006 lalu kembali terulang, di mana kala itu warga pengungsi diperbolehkan pulang meski ancaman bahaya belum sepenuhnya hilang.

“Pulang dua hari habis itu langsung meletus. Saya nggak ingin seperti itu,” tuturnya.

Untuk diketahui, warga mulai mengungsi pada 7 November 2020, atau dua hari setelah BPPTKG menaikan status Merapi dari level II (waspada) ke level III (siaga) 5 November 2020.

Sebelumnya pada Sabtu (16/1/2021), BPPTKG menyebut potensi utama bahaya erupsi Gunung Merapi tak lagi berada di arah tenggara atau sisi Kali Gendol. Melainkan, beberapa sungai di lereng sebelah barat.

Potensi awan panas dan lava pijar mengarah ke arah barat daya. Potensi guguran mengarah ke Sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng dan Putih sejauh 5 kilometer (km) dan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif sejauh 3 km dari puncak.

Tinggalkan Balasan