Samakan Persepsi, PBMTI Bedah Akad Murabahah

KEBUMEN, SM Network – Majelis Pengurus Daerah (MPD) Perhimpunan Baitul Maal wa Tamwil Indonesia (PBMTI) Kabupaten Kebumen membedah akad murabahah di Meotel Dafam Jalan Ahmad Yani Kebumen, Rabu (19/8).

Murabahah adalah perjanjian jual-beli antara bank syariah dengan nasabah. Di mana bank tersebut membeli barang yang diperlukan nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati kedua belah pihak.

Kali ini juga bisa dilakukan oleh lembaga Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) maupun Baitul Mal wa Tamwil (BMT). “Namun dalam pelaksanaannya, ternyata KSPPS / BMT masih menggunakan persepsi masing-masing. Baik pada KSPPS,” kata Ketua Forum Dewan Pengawas Syariah (DPS) PBMTI Kebumen, Ashari.

Ia yang menjadi salah satu narasumber dalam gelaran bedah murabahah itu berharap ada kesamaan atau keseragaman persepsi terhadap perjanjian jual beli secara syariah tersebut.

Kegiatan itu diikuti para pengawas syariah, pengurus, dan manager dari 16 KSPPS / BMT yang tergabung dalam PBMTI Kabupaten Kebumen. Selain Ashari juga menghadirkan narasumber Mohamad Adib Sahhala yang diketahui sebagai Sekertaria Forum DPS PBMTI Kebumen.

Ketua MPD PBMTI Kebumen, Ahmad Sugandi mengatakan, forum seperti ini merupakan kegiatan rutin setiap enam bulan sekali yang mengambil tema berbeda-beda. “Dalam kesempatan kali ini membahas menegenai akad murabahah. Peserta cukup antusias mengikuti kegiatan tersebut,” ucap Sugandi yang juga Manajer KSPPS Umat Sejahtera Mulia Kebumen itu.

Dikatakan Sugandi, pertemuan seperti ini bisa memberikan solusi dan dorongan terhadap KSPPS maupun BMT agar terus berjalan sesuai aturan syariah yang ada. Di samping itu tetap mengikuti panduan dari Fatwa Dewan Syariah Nasional. Sehingga lembaga tersebut tetap semangat dan kosisiten dalam mengelola lembaga keuangan syariah.

“Dan semoga mendapat kepercayaan dari masyarakat serta mendatangkan keberkahan,” tutur Sugandi. Dalam kesempatan itu juga diberi kesempatan bagi para peserta untuk bertanya langsung kepada narasumber. Beberapa peserta menyampaikan penerapan dalam akad murabahah yang berbeda. Seperti menerapkan jual beli secara syariah tersebut dalam bentuk uang, bukan barang.

Tak elak, untuk menyamakan persepsi terkait akad murabahah itu masih perlu ditindaklanjuti pada waktu lain atau forum berbeda. Jangan sampai, perjanjian jual beli secara syariah itu malah merugikan pihak-pihak yang melakukan akad. Apalagi menimbulkan gugatan hukum di kemudian hari.


Arif Widodo / K5

6 Komentar

  1. Like!! I blog frequently and I really thank you for your content. The article has truly peaked my interest.

  2. 245840 604628Exceptional read, I just passed this onto a colleague who was performing a little research on that. And he truly bought me lunch as I identified it for him smile So let me rephrase that: Thank you for lunch! 691003

  3. 218311 827138Some genuinely amazing weblog posts on this internet web site , thankyou for contribution. 451094

Tinggalkan Balasan