SM/Raditia Yoni Ariya - BERI TAUSIYAH: Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj memberikan tausiyah kepada warga NU di Kampus STAINU, Selasa (28/1) petang.

TEMANGGUNG, SM Network – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siroj mengatakan, bahwa Nahdlatul Ulama (NU) tidak antikonglomerat, tetapi konglomerat harus melakukan upaya-upaya pemerataan. Dengan begitu ada semacam mitra antar semua kelas di masyarakat.

“NU tidak antikonglomerat, kita hormati mereka. Alhamdulillah Indonesia ada konglomerat, kita bersyukur Indonesia punya konglomerat yang hight level, internasional bahkan,”ujarnya, kepada pers saat menghadiri pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Temanggung dan meresmikan tempat manasik haji di KBIH NU Babussalam Temanggung,”Selasa (28/1) petang.

Dia menyampaikan dengan tegas bahwa para konglomerat harus bisa menarik atau mengangkat kelas menengah. Bahkan kelas menengah harus dijadikan mitra, bukan sebaliknya hanya sekadar jadi pendukung, bukan pula untuk sekadar dieksplorasi, tetapi jadi mitra.

“Begitu pula selanjutnya kelas menengah pun harus mengangkat kelas kecil. Saya berharap NU selalu menjadi kekuatan sosial yang efektif, mampu mewujudkan keseimbangan. Sekarang ini masih ‘jomplang’ karena sebagian minoritas menguasai kekayaan yang luar biasa, sedangkan mayoritas miskin, terpinggirkan, bodoh, dan penyakitan,”katanya.

Menurut dia, semua itu harus ada keseimbangan, maka konglomerat harus melakukan upaya pemerataan. Menyinggung tentang munculnya kerajaan baru seperti Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire, dia menyatakan hal itu menunjukkan masyarakat sedang sakit, ada rasa minder.

“Orang kalau terzalimi pasti mencari jalan keluarnya Ratu Adil, Satria Piningit, dan Imam Mahdi. Mau melawan tidak bisa, tidak ada jalan untuk melawan, maka menunggu datangnya Ratu Adil, Satria Piningit, nunggu datangnya Imam Mahdi,” katanya.


Raditia Yoni A

2 KOMENTAR