SM/Asef F Amani - RSDU Tidar, rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Kota Magelang.

MAGELANG, SM Network – RSDU Tidar Kota Magelang diusulkan menjadi rumah sakit darurat khusus penanganan Covid-19. Sebab, sebagian besar rumah sakit nonrujukan pasien Covid-19 sangat longgar, sedangkan RSUD Tidar mulai terbatas akibat banyak pasien Covid-19 dan pasien umum bercampur jadi satu lokasi.

Usulan dilontarkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang, Eddy Sutrisno, Jumat (8/1). Ia beralasan, Kota Sejuta Bunga memiliki RSUD Tidar dengan ruangan yang sangat banyak, sehingga bisa seperti Wisma Atlet di Jakarta yang menjadi rumah sakit darurat khusus Covid-19.

“Tenaga kesehatan (Nakes) di RSUD Tidar ada, alat medis dan pengawasnya juga ada. Untuk pasien non-Covid dialihkan saja ke rumah sakit-rumah sakit lain, termasuk swasta, karena rumah sakit swasta nonrujukan Covid-19 keterisiannya rata-rata hanya 20-30 persen,” ujarnya.

Dia menuturkan, yang membuat penuhnya RSUD Tidar, karena antara pasien Covid-19 dan pasien umum ditampung semuanya. Padahal, rumah sakit nonrujukan Covid-19 justru kosong, sehingga ia menyarankan untuk pasien umum dialihkan ke rumah sakit swasta yang masing kosong.

“RSUD Tidar fokus saja melakukan treatment. Dengan begitu, saya yakin angka kematian dari 5,37 persen bisa diturunkan menjadi 3 atau bahkan 2 persen saja,” kata mantan Anggota DPRD Kota Magelang yang juga pengelola rumah sakit swasta itu.

Eddy juga meminta Satgas Covid-19 untuk lebih mengutamakan 3T (tracing, test, dan treatment) guna mengatasi pandemi ini. Selama ini dinilainya pemerintah hanya fokus sosialisasi 3M (mengenakan masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun), tetapi mengabaikan tanggung jawab pemerintah itu sendiri, yakni dengan melakukan penanangan 3T.

“Penanangan harus dilakukan dengan dua sisi, tidak hanya satu sisi dari masyarakat saja. Kalau ada kenaikan yang disalahkan masyarakat. Padahal, pemerintah sendiri gagal melakukan penanganan,” tuturnya.

Pengusaha properti dan kuliner itu melihat, strategi yang diterapkan Satgas Covid-19 Kota Magelang kurang optimal, karena angka penyebaran yang terus melonjak. Selain angka kematian tinggi, tingkat kesembuhan pun sangat rendah hanya 78,41 persen, masih rendah dibandingkan angka kesembuhan nasional sebesar 82,76 persen.

“Kontak erat seringkali dilupakan. Padahal mestinya 3T dilaksanakan secara serius. Kalau ada yang positif, langsung kunci, WFH-kan karyawan, lakukan test, dan treatment. Saya tidak menemukan hal itu dari tindakan-tindakan Satgas Covid-19 Kota Magelang selama ini,” jelasnya.

Ia juga mengkritisi penanganan pasien Covid-19 yang diisolasi secara terpusat di salah satu hotel. Ia melihat, yang terbatas di Kota Magelang saat ini bukanlah ketersediaan tempat tidur pasien, melainkan kurangnya tenaga kesehatan (nakes).

“Sebenarnya tenaga medis dan dokternya yang terbatas, bukan ruang perawatannya. Sama saja kalau diisolasi di hotel, tapi pengawasannya tidak ada, perawatnya tidak ada. Setelah isolasi, mereka keluar secara bebas. Padahal usai masa isolasi bukan berarti dia kebal, tetapi masih ada risiko tertular lagi,” ungkapnya.