Rescue Reptil Borobudur, Ubah Persepsi ” Ular Berbahaya “

MUNGKID, SM Network – Fenomena munculnya ular ke pemukiman kerap membuat masyarakat ketakutan, sehingga tidak banyak ular yang dibunuh. Melihat kejadian tersebut Mufti Adi Utomo atau yang lebih akrab disapa Didik, mendirikan Rescue Reptil Borobudur, untuk mengubah mindset masyarakat terhadap ular.

“Saat melihat ular itu ada dua opsi, kalau tidak lari pasti dibunuh. Karena mindset orang ketika melihat ular itu pasti berbahaya, sedangkan keberlangsungan hidup ular itu memiliki fungsi tersendiri,” jelas Mufti saat ditemui, Minggu (19/1), dikediamannya Dusun Pongangan, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabuoaten Magelang.

Ia mengaku jika dulunya takut dengan ular, kemudian ia memberanikan diri untuk memelihara seekor ular kecil yang dibeli dipasar. “Dulunya takut, terus memberanikan diri membeli ular kecil di pasar untuk dipelihara. Coba dipegang lalu lama-lama jadi suka,”terangnya. Selain itu, ia juga melihat bahwa masyarakat di desanya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani gagal panen akibat hama tikus.

“Saya berpikir, gagal panen tersebut diakibatkan rantai makanan yang putus. Banyak ular yang mati, sehingga perkembangbiakan tikus tidak terkendali, sedangkan tikus kan makanan ular,” papar Didit. Sejak saat itu ia membuat Rescue Reptil Borobudur untuk membuka mindset dan mengedukasi masyarakat bahwa tidak semua ular berbahaya.

Untuk Ekosistem

“Kita ingin membuka mindset masyarakat bahwa ular itu bagus untuk ekosistem. Lalu kita melakukan penelitian tentang ular. Ternyata dari 25 jenis ular yang sering terlihat di kampung kami, hanya lima jenis yang berbisa dan yang lainnya tidak berbahaya,” terang Didit. Puluhan hewan reptil yang dipelihara di kediamannya rata-rata sudah jinak. “Untuk ular yang tidak berbisa itu kebanyakan sudah jinak, karena dibiasakan bertemu dengan manusia,” terangnya.

Dengan membeli tiket seharga 5000, masyarakat bisa melihat puluhan jenis ular yang dipelihara di reptil resque Borobudur ini. Selain ular, ada juga berbagai macam reptil yang lain seperti buaya, kura-kura, dan tokek. “Kalau buaya itu hanya titipan milik orang, walau hanya titipan kita juga minta ijin sama BKSDA Semarang karena buaya ini kan termasuk hewan yang dilindungi,” katanya.


Dian Nurlita

Tinggalkan Balasan