Renungi HUT Kemerdekaan, OTT KPK Kebumen Diminta Jadi Kaca Benggala

KEBUMEN, SM Network – Aktivis Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII), Agus Suroso, memiliki pandangan tersendiri dalam merenungi HUT Kemerdekaan RI Ke-75 untuk Kebumen. Menurutnya, perenungan tersebut dengan mengambil pelajaran terhadap operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 2016 menjadi kaca benggala.

“Karena yang kami cermati, adanya pengembangan perkara dari OTT KPK justru mengundang reaksi pengondisian menuju ranah politik atau kekuasaan. Dimulai dari pengisian wakil bupati antar waktu dan berlanjut pada Pilkada 2020,” ungkap Suroso yang Mantan Ketua PMII Kebumen periode 2016 – 2017 itu.

Pesta demokrasi yang akan digelar 9 Desember nanti pun menghadapi konsekuensi lahirnya kotak kosong, jika hanya ada calon tunggal. Suroso lantas membeberkan gelaran Pilkada serentak itu akan melewati perjalanan empat tahun sejak OTT KPK pada 15 Oktober 2016. Di mana perjalanannya terdapat pengondisian oleh mereka yang berada pada pusaran perkara.

“Memang tampak seperti mulia, agar jangan sampai terjadi hal serupa. Atau yang belum terseret hingga meja hijau bisa terhenti hanya menjadi saksi. Sedangkan yang sudah merasakan dinginnya jeruji besi, tidak tersangkut kembali. Karena, risikonya bisa dihukum mati,” beber Suroso.

Untuk diketahui, dari pengembangan perkara OTT KPK itu telah menunjukkan kedigdayaan aparat yang kemudian tidak tersentuh. Padahal sebelumnya ada yang disebut dalam berita acara. Sehingga, hal itu seperti mengonfirmasi kebenaran atas pengondisiannya. Hingga kemudian terjadi pergumulan bersama dan kian leluasa menuju ranah politik.

Diawali dari pengisian wakil bupati antar waktu pada 2019, yang bergulir isu di masyarakat bahwa orang KPK mengisi jabatan tersebut. Berlanjut menghadapi Pilbup 2020 yang terdapat berbagai warna partai dengan terbawa pusaran perkara yang sama. Mereka pun telah menikmati pengondisian untuk memainkan bawang kothong (kandidat tidak diperhitungkan) seperti sebelumnya.

Sampai titik tersebut, mestinya partai politik insyaf dengan menyikapi OTT KPK menjadi kaca benggala. “Ini bukan untuk siapa-siapa. Tapi untuk mereka juga,” imbuh Suroso. Ia lantas menjelaskan, kaca benggala selain untuk menilik masa-masa suram pada kejadian 2016 silam, juga sebagai alat introspeksi bagi mereka yang masuk pusaran perkara. Termasuk mantan Ketua DPRD Kebumen Cipto Waluyo yang saat ini masih berada di penjara.

Sesalnya, istri dari Cipto Waluyo, Ristawati Purwaningsih, dijadikan bakal calon wakil bupati untuk mendampingi Arif Sugiyanto, yang saat ini menjabat wakil bupati Kebumen. Sedangkan partai-partai seolah terkondisikan semua bak kerbau yang dicucuk hidungnya. “Maka, persepsi yang muncul di masyarakat yakni adanya barter politik dalam Pilkada Kebumen saat ini. Tentunya, anggapan tersebut bukan tanpa sebab,” tandasnya.


Arif Widodo / K5

Tinggalkan Balasan