Rekontijensi Erupsi Merapi Libatkan Anak

SLEMAN, SM Network – Rencana kontinjensi erupsi gunung api Merapi Kabupaten Sleman tahun 2020 telah disahkan. Rencana kontinjensi merupakan upaya mitigasi bencana saat terjadi keadaan darurat akibat erupsi Merapi.

Dokumen tersebut merupakan pemutakhiran rencana kontijensi Merapi tahun 2012, dengan skala ancaman letusan gunung merapi yang disesuaikan tahun 2019 sesuai kajian BPPTKG Yogyakarta. Ada hal yang menarik dalam penyusunan dokumen mitigasi kebencanaan tersebut. Yakni, adanya keterlibatan anak-anak dalam penyusunannya.

“Ini adalah inovasi kebijakan publik yang positif karena prosesnya bottom up, berdiskusi dan mencatat usulan anak – anak. Kami yakin tidak semua kabupaten/kota di Indonesia melakukan ini, bahkan mungkin Sleman satu-satunya daerah yang melibatkan anak-anak dalam proses penyusunan kontijensi,” ungkap Ketua Kantor Perwakilan Unicef Jawa Arie Rukmantara disela kegiatan penandatanganan pengesahan rencana kontijensi Merapi di kompleks Setda Sleman, kemarin.

Sebelum disahkan oleh bupati, dokumen tersebut terlebih dulu dimutakhirkan oleh pemkab dengn menggandeng sejumlah unsur seperti relawan, akademisi, pelaku usaha, Unicef, yayasan RedR Indonesia, dan forum PRB DIY. Bupati Sleman Sri Purnomo berharap, melalui pendekatan yang partisipatif tersebut, rekontijensi Merapi mampu mengakomodasi kebutuhan dan kondisi riil di lapangan, termasuk kebutuhan anak dan kelompok rentan lainnya. Terlebih, dokumen itu bersifat partisipatif, disusun oleh multi sektor dan multi pihak serta dinamis dan selalu terbarukan.

“Dokumen rekontijensi ini disusun dengan tujuan sebagai pedoman dalam penanganan darurat bencana. Sehingga saat terjadi tanggap darurat bencana, berbagai sumber daya para pemangku kepentingan dapat terkelola dengan cepat dan efektif, serta sebagai dasar dalam melakukan mobilisasi,” terang dia.

Kehadiran rekontijensi diharapkan pula meningkatkan literasi bencana masyarakat, terutama yang tinggal di lereng Merapi. “Masyarakat yang sadar literasi bencana, maka akan memahami riwayat bencana di lokasi sekitarnya. Bencana alam tidak bisa dihindari, tapi jumlah korban jiwa bisa dikurangi bahkan dihindari,” kata Sri.

Kepala BPBD Sleman Joko Supriyanto mengatakan proses lokakarya pembentukan kontijensi tersebut tidak hanya dibangun melalui porses bottom up. Dokumen tersebut juga sudah tervalidasi oleh anak. Artinya, peran dan partisipasi anak dalam penanggulangan bencana terakomodir secara proposional.

Anak tidak hanya ditempatkan sebagai objek melainkan subjek dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Langkah tersebut sekaligus untuk mendukung Sleman sebagai kabupaten layak anak.

“Rekontijensi ini dapat menjadi pedoman bagi para stakeholder dalam penanggulangan bencana,” tukasnya.


Amelia Hapsari

1 Komentar

  1. 713901 111540I think other website proprietors should take this site as an model, really clean and superb user genial style . 355742

Tinggalkan Balasan